Thursday, March 22, 2012

Pemuda Tirtanadi Peduli Korban Banjir Bandang


SEPEKAN pascabanjir bandang menerjang Sembalun dan Sambelia, Rabu (20/3) puluhan pemuda yang tergabung dalam Ikatan Pemuda Tirtanadi (IPT) di dampingi langsung Kepala Desa Tirtanadi, Ruspan langsung menyerahkan bantuan kepada warga Batu Sila Desa Dara Kunci Kecamatan Sambelia.

Bantuan langsung diterima Kadus Batu Sila, Maliki bersama warga di Masjid setempat. Kepada para pemuda warga Batu Sila mengaku sangat berterima kasih pada pemuda Tirtanadi. Ia menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya kepada atas perhatian pemua Tirtanadi.

Pemuda Tirtanadi lebih memilih menyerahkan langsung bantuan berupa mie instan, beras dan pakaian layak pakai kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

Camat Sambelia, Parihin pun sangat mengapresiasi IPT. Katanya, bantuan terus mengalir dari berbagai pihak. Seperti terlihat, di kantor Camat Sambelia puluhan kendaraan pengangkut sembako berdatangan.

“Ya, bantuan terus mengalir ini,” papar Camat Sambelia, Parihin yang ditemui di kantornya. Ia menuturkan meski para pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing bantuan terus mengalir dari sejumlah pihak. Selain dari pemerintah, pihak swasta dan elemen masyarakat sendiri.

Bantuan dari berbagai pihak itu kata Parihin selain diberikan kepada 1.013 pengungsi saat banjir bandang menerjang. Bantuan juga diberikan kepada masyarakat yang juga terkena dampak banjir bandang. Tidak termasuk memang mereka menjadi pengungsi yang keberadaannya hampir sepekan berada di pengungsian Kantor Desa Dara Kunci dan SMPN 2 Sambelia di Belanting. Saat ini semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Namun, dipastikan penerima bantuan benar-benar yang berhak sesuai dengan hajat pihak yang memberikan bantuan.

Dipastikan Camat Sambelia ini, bantuan yang disalurkan ke tengah masyarakat tepat sasaran. Proses pendataan bahan bantuan berupa mie instan, beras, telur dan sejumlah pakaian layak pakai akan disalurkan benar-benar kepada pihak yang membutuhkan.

Adapun daerah-daerah yang nantinya mendapatkan bantuan karena masuk dalam katagori terkena musibah di wilayah Kecamatan Sembalun, sebut Parihin, terletak di tujuh desa. Yakni Des Dara Kunci, Belanting, Labuan Pandan, Dadap, Sugian, Senanggali dan Sambelia.

Kadus Batu Sila, Maliki yang menyatakan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada pihak yang peduli terhadap warganya. Harapannya, bantuan yang disalurkan nantinya benar-benar tepat sasaran. Tidak menyimpang dari niatan para pemberi bantuan.

Ditanya soal kemungkinan adanya banjir susulan melihat kondisi cuaca yang masih ekstrim, Maliki menyebutkan saat ini warganya sudah cukup tenang. Meski langit di atas pegunungan Rinjani terlihat lebih sering berwana hitam karena mendung tebal. Namun diyakini sudah cukup aman karena kehitaman awan dan intensitas hujan yang turun juga tidak terlalu tinggi. “Sudah aman sekarang,” paparnya.

Wednesday, January 18, 2012

Ritual Adat "Rebo Buntung" Prosesi Tolak Bala Ala Masyarakat Sasak


Ritual adat Rebo Buntung (Hari Rabu Terakhir) adalah salah satu dari sekian tradisi dan budaya yang melekat pada sebagian masyarakat Suku Sasak yang menghuni Pulau Lombok. Berdasarkan latar belakang sejarah, Rebo Buntung ini dikenal dengan prosesi mandi pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar. Hal itu dimaksudkan untuk menolak bala bencana yang akan menimpa.

PROSESI itulah yang dilakukan masyarakat adat Sasak di wilayah di Pantai Ketapang Tanjung Menangis Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lotim, Rabu (18/1) kemarin. Sejumlah pemangku adat Sasak hadir dalam prosesi ritual adat tersebut yang disaksikan Bupati Lotim, H.M. Sukiman Azmy.

Rebo Buntung bermakna hari rabu yang terputus, dikarenakan hari tersebut berada diantara dua bulan yakni Safar dan Rabiul Awal (bulan maulid nabi). Buntung juga dimaknai buruk yakni petaka.

Bupati Lotim memberi makna ritual adat tersebut sebagai bagian dari cara melahirkan kentenangan, kenyamanan, kedamaian dalam hidup bermasyarakat. Karenanya, seluruh anggota masyarakat secara bersama-sama, satu tekad, satu tujuan, membersihkan diri dari segala sifat negatif. Sehingga terhindarkan dari bala bencana dalam kehidupan. Bala dan bencana hadir dikatakan kerap juga disebabkan adanya pengaruh prilaku negatif manusia.

Ditegaskan, menjaga keseimbangan alam merupakan kewajiban.. Utamanya akibat perubahan iklim saat ini. Banyaknya bencana alam akhir-akhir ini akibat ketidakseimbangan alam. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang diberikan misi besar sudah tidak lagi memperhatikan keseimbangan itu.

Manusia teah merusak tanpa pernah berfikir untuk memperbaiki. Alam tidak lagi dianggap sebagai sumber kehidupan penting, karenanya harus dimuliakan, dipuja sekaligus disakralkan. Selama ini, alam juga telah diartikan salah. Yakni sebatas ladang eskploitasi yang mendatangkan keuntungan besar. Kepada masyarakat, Bupati Sukiman mengajak menghindari sikap dan prilaku yang dapat mengancam keseimbangan dan kelestarian alam.

Ritual adat Rebo Buntung mengandung nilai budaya dan jati diri masyarakat adat Sasak. Ditengah gerusan budaya dan perkembangan dunia yang semakin bergerak cepat seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Budaya asli daerah tergerus. Hadir budaya hidup bebas, materialistik, dan mengesampingkan nilai-nilai agama.

“Budaya asli yang kita miliki mulai terancam. Bukti nyata sudah tampak di hadapan kita, di mana kini pola hidup bebas, materialistik, hedonistik, dan mengesampingkan nilai agama hampir menjadi gaya hidup sebagian besar generasi kita, lebih-lebih generasi muda,” papar Bupati.

Di samping itu, akibat kompleksitas permasalahan sosial, ekonomi dan politik. Lahir sikap, prilaku masyarakat yang tidak mencerminkan diri sebagai seorang yang memiliki budaya dan adat istiadat. Maraknya tindak kriminal seperti penipuan, bentrokan antar wilayah akibat perbedaan organisasi dan politik. Benturan antar pelajar dan elemen mahasiswa.

“Oleh sebab itu, maka alangkah arifnya apabila kesempatan ini kita pergunakan untuk melakukan kilas balik dan perenungan kembali indentitas jati diri kita, yakni nilai-nilai luhur budaya bangsa,” pinta Bupati.

Selanjutnya dipesankan, para tokoh adat, tokoh agama bersama dengan pemerintah hendaknya bisa bahu membahu dalam mengangkat dan melestarikan kembali nilai-nilai budaya. Momentum Pesta Rakyat Ritual Adat Rebo Buntung diharapkan dapat melahirkan kembali semangat dan gairah dalam mengembangkan budaya dan adat istiadat Sasak. Sebagai pondasi meraih kemajuan.

Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lotim, H. Gufranudin menjawab menambahkan ritual adat Rebo Bontong ini ini sudah menjadi aset wisata budaya. Telah menjadi Calendar of Event Tourism alias kalender wisata di provinsi NTB.

Digelarnya Ritual Adat Rebo Buntung menjadi ritual pembuka awal diaplikasikannya Program Visit Lombok Sumbawa (VLS) dengan satu juta kunjungan wisatawan datang ke NTB. “Kita mengadakan VLS 2012 yang mana tahun 2012 ini kan tahun aplikasi,” ucapnya . selanjutnya nanti aka nada event ada bau nyale dan sejumlah event pariwisata lainnya. Ada 50 event di NTB.

Ritual adat Rebo Buntung dikatakan sebagai salah satu bukti kekayaan adat masyarakat Sasak. Tentunya ke depan akan dilestarikan budaya Sasak tersebut, khususnya di tengah masyarakat adat yang ada di Lotim. Lestarikan menjadi tradisi. “Ini adalah event yang sekala kabupaten, usaha kedepan supaya skala lebih besar. Skala provinsi. Syukur-syukur jadi sekala nasional,” demikian papar Gufran.***


Selengkapnya bisa dibaca di www.suarantb.com

Thursday, January 5, 2012

Kades Tirtanadi Dilantik


Kepala Desa Tirtanadi kecamatan Labuhan Haji, Ruspan akhirnya dilantik dan diambil sumpah jabatannya Rabu (4/1) kemarin. Prosesi pengambilan sumpah ini berlangsung lancar dan dihadiri ribuan masyarakat Desa Tirtanadi.

Camat Labuhan Haji, LL. Dami Ahyani melantik kades baru pemekaran dari Desa Korleko Kecamatan Labuhan Haji. Sementara Bupati Lotim H.M. Sukiman Azmy diwakili Staf Ahli Pemerintahan Sekretariaaqt Daerah Kabupaten Lotim, H. Muskirin.

Usai dilantik, Kades Tirtanadi, Ruspan menyampaikan siap melakukan perubahan di desa yang baru mekar dari Desa Korleko itu. Selaku pemegang amanah rakyat, ia ingin masyarakat desanya bisa tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.

Masyarakat Desa Tirtanadi mayoritas petani dan peternak sapi. Persentase kemiskinan cukup tinggi. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah. Tampil sebagai kades satu-satunya pada saat suksesi Pilkades 8 Nopember 2011 lalu, menjadi modal atas kepercayaan masyarakat terhadapnya. Karenanya dijanjikan, upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat menjadi dambaan dan harapan ingin diwujudkan di Tirtanadi.

Kondisi kesehatan masyarakat yang masih rendah juga akan menjadi perhatian serius Kades baru ini. Menjadi tantangan berat karena dihadapkan pada sikap dan prilaku masyarakat.

H. Muskirin ketika menyampaikan pesan tertulis Bupati Lotim, HM. Sukiman Azmy menyampaikan harapan agar Kades terpilih Tirtanadi ini bisa merangkul semua elemen masyarakat yang pro maupun yang kontra. "Itu adalah tugas berat yang harus diselesaikan," ucap Muskirin.

Dikatakan membangun desa harus dengan dasar kebersamaan. Kades Ruspan diminta untuk satukan masyarakat. Jangan sampai ada yang terkotak-kotak. Dalam membangun roda pemerintahan, syarat wajib ada semangat kebersamaan.

Diketahui proses pilkades berjalan lancar. Hanya Ruspan sendiri sebagai calon. Karena alasan demokrasi, disiapkanlah kotak kosong disandingkan dengan gambar calon Kades Ruspan. Kemenangan mutlak diraih Ruspan dengan prolehan suara sah 2.198 suara dari 3.774 Daftar Pemilih Tetap (DPT). Kotak kosong dicoblos 970 orang dan tidak menggunakan hak pilihnya 558 orang. Keinginan masyarakat ingin dari dulu segera memiliki desa baru dan kepala desa baru. Sehingga lebih memudahkan pelayanan sebagaimana tujuan diadakannya pemekaran desa.

Monday, July 18, 2011

Orang Miskin Sebaiknya Jangan Sakit!


Mentari sore waktu itu masih memancarkan panas trik mentari yang terasa masih menyengat. Darii sudut Gang Orong Teker (Ortek) di sebuah perkampungan padat penduduk Desa Terara Utara Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Rizky Ikhtiar menangis. Anak kedua Zulkarnaen seperti memberitahukan penderitaannya. Karena tangisannya tidak seperti anak-anak seusianya.

RIZKY Ikhtiar, hidup kurang normal. Matanya sebelah kanan menyembul keluar. Pengakuan seorang dokter yang pernah mendiagnosanya, ia tengah mengidap tumor. Setahun sudah lamanya, balita malang ini mengidap penyakit yang katanya pernah pernah diklaim juga sebatas katarak biasa. Namun makin hari, benjolan daging makin membesar. Parahnya lagi, nanah mengalir dari sela-sela daging yang tumbuh itu.

Zulkarnaen tidak kuasa. Lagi-lagi, alasan kemiskinan yang melilit keluarganya membuatnya tidak mampu membiayai anaknya berobat dengan biaya besar. Apalagi menyebut akan operasi. Makelar perempatan yang memiliki penghasilan tidak tetap ini tak hanya mengharapkan belas kasih dan bantuan dari orang lain.

Kartu Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang dimilikinya tidak mampu menolong anaknya. Padahal sedari awal ketika cara pengobatan medis ditempuh, cukup lancar prosesnya. Namun ketika ingin lebih, termentahkan oleh prosedur yang meribetkan.

Zul menuturkan, pada mulanya berdasarkan hasil pemeriksaan pertama di dokter mata RSUD Selong, anaknya divonis mengidap tumor. Oleh sang dokter, ia pun diminta untuk dirujuk ke RSU Provinsi NTB di Mataram. Sayang sungguh disayang, ketika diperiksa di rumah sakit yang terbakar belum lama itu, ia justru hanya mendapatkan hasil diagnosa yang berbeda. “ini sih cuma katarak biasa,” ucapnya menirukan acapan sang dokter di RSUP NTB itu.

Kini semua bola mata anak laki-lakinya itu seperti menyembul semua keluar. Hal itulah yang membuat keluarga miskin ini semakin membingungkan. Para dokter seperti mempermainkannya. “Benar-benar tumor atau hanya katarak biasa,”…Beberapa waktu lalu, Zul pun mencoba datang lagi ke RSU terbesar di NTB. Karena rujukan dokter di RSUD Selong ke RSUP itu segera saja dioperasi.

Kembali, jawaban kurang memuaskan diterima dari RSU Provinsi. “Disini sudah tiga tahun alatnya rusak. Kalau mau dioperasi di sini, bawa saja alat yang ada di Lotim itu ke sini,” ungkap Zul menirukan kembali ucapan tim medis yang menerimanya.

Semakin memilukan kembali, saat ia tidak bisa mendaftar. Pertanyaan dari tim medis yang melayaninya, “Pakai bayar atau JPS?” karena keadaan yang memang demikian adanya, jamkesmas yang menjadi andalan ternyata tidak mampu menolong anaknya. Zul pun beranggapan, dikarenakan hanya mengandalkan jamkesmas, ia pun mendapatkan pelayanan yang kurang diprioritaskan. Ia pun mencoba membuatkan Surat Keterangan Tanda Miskin (SKTM) untuk anaknya. Meski sudah mengurus itu, keinginannya untuk bisa dioperasi dengan dana bantuan pemerintah tidak kunjung terwujud.

Harapannya kini cuma satu. Anak kesayangannya dapat segera dioperasi saja. Pasalnya, melihat kondisi anaknya yang juga pernah dioperasi bibir sumbing ini sudah cukup memprihatinkan. Makin hari makin membesar. Kini ada salah seorang yang coba ingin membantunya. Namun sebatas untuk mengurus proses mendapatkan jaminan dari pemerintah.

Keluarga sederhana ini kini hanya bisa menunggu. Menunggu kapan keajaiban itu akan datang membantu anaknya. Soal berobat ke dukun sudah tidak terhitung dilakukan. Urusan makan pun katanya kerap ditunda demi pengobatan sang anak.

Sosial maker Lotim, Ujipuddin menaruh harapan serupa kepada semua pihak agar bisa membantu pasien miskin. Tidak saja Rizky Ikhtiar, namun ratusan orang di Lotim memiliki nasib serupa. Utamanya diluar biaya medis. Mustahil bisa menerima perawatan medis sementara biaya mengantarkan ke tempat perawatan medis itu tidak ada.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Lotim H. Suroto menuturkan ia saat ini sedang mengusahakan proses pemberian jaminan kesehatan pada balita malang itu. Rujukan untuk ke rumah sakit Sanglah Denpasar Bali sedang dipersiapkan. Ketidakjelasan diagnosa dokter tampaknya menjadi pemicu belum jelasnya penanganan medis yang harus diberikan pada balita Rizky Ikhtiar itu.

Mengenai Jamkesmas Suroto ini mengatakan sudah cukup berlebih pemberiannya kepada warga miskin Lotim. Disebutkan penerima jamkesmas secara keseluruhan sebanyak 511.650. dari jumlah itu, jika mengacu pada jumlah penduduk di Lotim berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 lalu, 1,2 juta jiwa maka sudah mencapai 50 persen penduduk Lotim yang menerima jamkesmas. Padahal jika mengacu pada persentase penduduk miskin hanya 23,95 persen akan tercatat semestinya 260 ribuan penduduk miskin di Lotim.

Meski demikian, saat pendataan masih ada penduduk yang mengaku miskin yang mengaku belum mendapatkan jamkesmas. Hadirnya jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) yang dikeluakan Pemerintah Provinsi untuk Lotim 71.388 orang menambah catatan jumlah penduduk Lotim yang menerima jaminan kesehatan dari pemerintah.

“Jadi total penerima jamkesmas dan jamkesda ini mencapai 583.036 orang, sudah cukup banyak,” penilaiannya. Belum menerima diberikan lagi SKTM. Dengan demikian, menurut Suroto, tidak ada lagi sebenarnya warga yang miskin.

Mengingat hal itu, sangat diharapkan Suroto Jamkesmas dan jamkesda itu bisa benar-benar tepat sasaran. “Kalau kita kan hanya melayani jamkesmas, soal siapa yang diberikan itu ditetapkan oleh dusun dan desa. Kalau kadusnya sudah bilang ini miskin ya kita berikan saja,” demikian.

Untuk Jamkesda yang ditinggal mati bisa digantikan ke orang lain. “Kalau Jamkesmas ini sudah menjadi ketentuan pusat, tidak bisa kita ganti meski pemilik sudah meninggal,” tuturnya menambahkan.

Soal pelayanan, diyakini sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Bantahannya, selama ini tidak ada istilah tebang pilih. Dipastikan, semua dilayani dengan baik. Kendalanya memang, biaya memenuhi kebutuhan lain selain untuk keperluan medis. Biaya kebutuhan hidup keluarga yang menjaga. “Soal pelayanan kesehatan sudah sangat bagus,” nilainya. Bahkan untuk biaya hidup ini tuturnya pihaknya berusaha untuk membantu mengusahakan dari pada donatur. Antara lain dari Badan Amil Zakat Daerah (Bazda).

Disadari para pelayan medis ini, faktor biaya diluar medis yang juga cukup besar menjadi persoalan sendiri bagi pihak keluarga, Menurut hemat penulis, biaya selama mendampingi, ada alokasi dana dari jamkesmas yang disalurkan. Tidak bisa dari jamkesmas, harapan dana lain bisa mengalir. Karena menjadi hal yang mustahil pihak keluarga tidak turut mendampingi proses penyembuhan. Terlebih, namanya warga miskin, selain berat pada aspek pembiayaan medis juga pada aspek ongkos.

Mengenai soal anggaran yang dipersiapkan di Lingkup Dinas Kesehatan Lotim, ditambahkan Suroto, dimasing-masing puskesmas diberikan Rp 1000/bulan/orang kepada para penerima jamkesmas. Dalam setahun diberikan Rp 12 ribu. Dari pemberian dana tersebut dirasa cukup membantu pelayanan kesehatan kepada warga miskin itu.

Humas RSUD Dr. R. Soedjono Selong, dr. Sidarta Fitriadi juga memberikan kepastian bahwa dalam pelayanan terhadap kesehatan masyarakat dipastikan sesuai dengan prosedur pelayanan medis yang telah ditetapkan. Tidak ada perbedaan pelayanan antara si kaya yang mampu bayar maupun si miskin yang hanya mengandalkan jamkesmas atau SKTM.

Di RSUD Selong ini, tahun 2011 dianggarkan dana Rp 3 miliar. Tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya sekitar Rp 2,76 miliar. Dengan alokasi anggaran itu, dipastikan bisa melayani dengan baik.

Diakui Sidarta, terkadang ada perbedaan persepsi antara warga dengan tim medis. Bagi para tim medis, bantahan Humas RSU ini jika sudah sesuai prosedur yang telah ditetapkan maka sudah benar langkah-langkah dan pelayanan yang diberikan. “Memang terkadang kita berbeda pandangan,” ucapnya.

Untuk di RSUD Selong sendiri, berupaya untuk melayani dengan baik sesuai prosedur. Sebagai contoh dalam pelayanan operasi pasien, Sidarta memberikan kepastian semua yang telah mendaftar tidak membutuhkan waktu lama menunggu. Antrean untuk operasi diakui ada. Tapi tidak akan berselang lama. Karena tenaga dokter dan alat medis yang ada dirasa sudah cukup memadai.

Disebutkan Sidarta, tercatat dalam sebulan terakhir sebanyak 79 orang yang akan operasi. Tim dokter RSUD Selong ini bisa melayani pasien operasi 2 orang /hari. “Jarak antrean paling lama dua bulan,” ucapnya. Itupun bagi yang tidak emergensi. Terhadap pasien yang emergensi, tidak akan dibiarkan menunggu lama. Delapan dokter spesialis, yakni bidang kandungan, penyakit dalam, anak, bedah dan mata siap melayani.

Mengenai jenis penyakit yang diderita warga Lotim, terbanyak berupa tumor jinak leher. Pasien yang tidak bisa ditangani di RSUD Selong tanpa menunggu proses panjang langsung dirujuk ke rumah sakit yang dipandang bisa memberikan solusi terhadap kesehatan pasien.***

Thursday, June 30, 2011

MAJIKAN ARAB Keluarkan UANG BANYAK untuk BELI TKW

Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terbilang sebagai daerah penyumbang TKI terbesar di NTB. Data di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transimigrasi (Disosnakertrans) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim menyebut total TKI asal Lotim ini mencapai 10.183 pada tahun 2011 ini saja. Sebagian besar menuju Malaysia dan Arab Saudi menjadi tujuan utama kedua.

Data terakhir memasuki pertengahan tahun 2011 ini, Disosnakertrans Lotim mencatat TKI yang ke Arab sudah mencapai 793 orang. Sebagian besar bekerja disektor non formal, yakni menjadi pembantu rumah tangga sebanyak 782 orang sedangkan laki-laki hanya 11 orang.

Berdasarkan data tersebut, diterangkan Kepala Dinas (Kadis) Disosnakertrans Lotim H. Sirman sebagian besar TKI ke Arab bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pilihan kerja di sektor non formal itu diakui terbanyak karena paling banyak permintaan.

Pasca Kebijakan pemberhentian sementara alias moratorium yang keluarkan Pemerintah, jajaran Pemkab Lotim melalui Kadisosnakertrans, H. Sirman mengatakan terhitung sejak Selasa (28/6) lalu sudah pula melakukan pemberhentian sementara pemberangkatan para TKI ke negeri Arab tersebut. “Kita juga sudah memberhentikan sejak hari ini (Selasa-red),” ujarnya ketika dikonfirmasi Suara NTB.

Keberadaan TKI asal Lotim yang bekerja di Arab sejauh ini dipandang aman-aman saja. Tidak ada informasi yang didengar mengalami masalah. Di soal mengenai ada indikasi jual beli TKW khusus ke Arab ini, Sirman enggan memberikan pernyataan. “Saya tidak berani komentar terkait hal itu,” ucapnya.

Jelasnya, proses pemberangkatan para TKI ke negeri Arab melalui proses pelatihan dulu. Yakni mengikuti proses pelatihan di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN). Terhitung sejak Selasa itu pula, pemkab Lotim memberhentikan proses pemberangkatan TKI yang akan diikutikan dalam proses pelatihan itu.

Adanya indikasi jual beli TKW ternyata bukan isapan jempol. Temuan Suara NTB berdasarkan penuturan sejumlah mantan TKW yang berhasil diwawancara, ternyata sebagian besar TKW dibeli oleh sang majikan. Seperti dituturkan Raihanun, salah seorang mantan TKW asal Desa Wanasaba Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lotim. Terhitung sejak usia belasan tahun katanya dirinya sudah menginjak tanah Arab.

Empat kali sudah ia lalu lalang ke Negeri Unta itu menjadi pembantu rumah tangga. Keberangkatannya ke Negeri Arab melalui Perusahaan Penggerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) selama ini memang berjalan mulus. Ditanya soal jual beli TKW, diakuinya memang demikian adanya. “Kita memang dijual,” tuturnya.

Sang majikanlah yang membeli ke PJTKIS ini. Harganya pun mulai dari kisaran jutaan rupiah. Semua proses pemberangkatan menuju ke rumah sang majikan dibiayai oleh Majikan. Andil dari PJTKIS sendiri tidak diketahui, bahkan dipertanyakan.

“Mulai tiket, ongkos ke rumah majikan semuanya ditanggung oleh Majikan. Jadi kita sebenarnya memang dibeli dari PJTKI,” terangnya. Padahal di PJTKIS sendiri, ada keharusan bagi sang TKI untuk membayar. “Kita memang diminta uang, ada yang Rp 2 juta,” imbuhnya.

Raihanun menambahkan ia tahu dirinya dijual itu dari penuturan sang Majikan sendiri. Saat duduk-duduk santai, biasanya ia menyempatkan diri ngobrol dengan sang majikan. Sang Majikan mengaku aneh malah ketika mengetahui ada keharusan pembantunya membayar hutang kepada PJTKI. “Saya kan sudah mengirimkan uang ke Indonesia menebus kamu,” ucapnya mengutip penyataan sang majikan. Tidak jarang juga, gaji beberapa bulan pertama di potong langsung oleh PJTKI yang memberangkatkan.

Dikarenakan sebagian besar di jual itulah yang membuat sang Majikan terkadang arogan. “Saya bayar kamu mahal-mahal untuk bekerja dengan baik dengan saya,” demikian ucap Raihanun menuturkan ungkapan yang biasa terlontar dari mulut sang Majikan. Menyikapi hal itu, tidak ada hal lain yang harus dilakukan kecuali bersikap baik. Karena sang Majikan memang merasa berkuasa dengan uangnya.

Kuncinya agar bisa sukses, terang Raihanun adalah menjaga sikap tetap baik kepada majikan. Tidak pernah melawan dan selalu menuruti apa kemauan majikan. Inilah titik nadirnya menjadi TKW di negeri Arab. “Tergantung kita sebenarnya juga,” ucapnya. Menurutnya, jika pembantu bersikap baik maka orang Arab ini akan bersikap sangat baik juga.

Terkadang kerap terjadi masalah jika tidak mampu disikapi dengan baik. Seperti saat berhadapan dengan anak sang Majikan. Ketika berhadapan dengan anak majikan inilah yang kerap menjadi biang masalah. Jika salah sedikit saja, anak majikan ini kerap mengadu pada orang tuanya.

Disitulah yang menjadi pemicu masalah. “Anak-anak majikan ini kadang-kadang nakal-nakal, kita marahin sedikit diaduin ke orang tuanya. Kita lalu dimarah sama orang tuanya,” keluhnya. Pengalaman Raihanun sendiri disyukuri sejauh ini tidak sepahit seperti pemberitaan dimedia. Kepiawaiannya menyikapi semua masalah bisa mengeluarkannya dari masalah.

Mengenai gaji, tergantung kebaikan sang Majikan. “Kalau saya dulu Rp 600 real, sekarang katanya sudah sampai 800 real,” imbuhnya. Soal waktu, tergantung pula dari keinginan sang majikan. Ada yang bekerja dari sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat sampai sore. Ada juga yang sampai malam hari.

Menjadi TKW di Arab, jika tidak persiapkan diri dengan matang disarankan Raihanun untuk tidak dilakukan. Pasalnya, karakter sifat dan prangai orang-orang Arab beda dengan orang Indonesia. Jika tidak siap mental, maka kerap akan mengalami tekanan batin.

Jika melihat mudahnya mendapatkan uang Raihanun mengaku pingin kembali bekerja menjadi TKW. Namun setelah mendapatkan informasi dan adanya larangan dari pemerintah ia pun mengurungkan niatnya untuk berangkat lagi. Lebih-lebih saat ini ia sudah memiliki seorang putri dan larangan dari suami. Ditanya soal nama PJTKIS yang memberangkatkannya, Raihanun mengaku tidak menghafal nama-namanya.

Pengalaman sedikit berbeda dialami Sadariyah, TKW Arab asal desa Suralaga Kecamatan Suralaga. Dihubungi secara terpisah, TKW yang menjadi pembantu rumah tangga di Kota Dammah Arab Saudi ini mengaku sangat senang bekerja. Majikan sangat baik padanya.

Tamat di bangku Madrasah Tsnawiyah (MTs), beberapa tahun lalu ia memilih menjadi TKW karena himpitan ekonomi keluarga. Dua tahun lamanya ia Negeri Arab itu. Selama itu, majikan tidak pernah berbuat kasar. Bahkan ia berencana bulan ini akan kembali lagi ke negeri Arab.

Tiket pun sudah dipesankan oleh Majikan. Mengetahui adanya larangan berangkat, sepertinya kurang digubris oleh Sadariyah ini. Pasalnya, sang Majikan mengaku siap akan datang menjemput langsung. Sejauh ini, ia pun tenang-tenang saja tidak ada persoalan.

Ditanya soal adanya jual beli TKW, Sadariyah menjawab enteng saja. “Saya tak tahu kalo soal tu,” ucapnya. Adanya informasi mengenai TKW Ruyati yang dihukum pancung tidak diketahui keberadaannya secara pasti oleh Sadariyah ini. Katanya ia hanya mendengar dari pemberitaan di media. Ia pun mengaku tidak percaya sepenuhnya terhadap hal itu. Karena menurutnya, orang-orang Arab itu tidak jauh beda dengan orang Lombok. “Baik-baik sama seperti orang Lombok,” demikian pengakuannya.

“Bisa Bahasa Arab?” tanyanya Kepada Suara NTB tiba-tiba ditengah obrolan. “Laa astathi’..” jawab kami kemudian singkat karena memang bahasa Arab cukup sulit jika tidak dipelajari secara intensif. Sadariyah yang bercita-cita ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi ini pun mengaku siap akan mengajarkan Bahasa Arab itu. “Nanti saya ajari,” janjinya dengan logat sedikit bercampur dengan gaya ngomong ala orang Arab ini

Sunday, June 26, 2011

Es Amaq Mus

Separuh usianya sudah dihabiskan untuk memikul dua rombong besar berisi aneka jajanan dingin. Ada es mambo, es lapis dan es buatan tangan lainnya. Kini usianya menginjak 60 tahun. Amak Mus, demikian ia biasa dipanggil mencoba untuk tetap bertahan. Tidak ada pekerjaan lain yang ia bisa kerjakan. Ia harus berjalan kaki setiap hari sepanjang puluhan kilo meter mendatamgi kerumunan warga seraya menawarkan jajanannya

 “ES es es es…sss” demikian biasanya teriakan pria paru baya yang sudah 35 tahun memikul dagangannya ini kala memanggil para pembeli. Berangkat seperti jam kerjanya para Pegawai Negeri Sipil (PNS) saat pergi ngantor, dari Rumahnya di Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan-jalan kampong. Melewati kecamatan-demi kecamatan. Saat lelah datang, kendaraan ojek pun jadi pilihan. Tidak jarang juga memilih cidomo mengantarkannya ke tempat yang menjadi target pasar penjualannya. Dari desanya, terbilang sejumlah kecamatan dia lalui. Mulai Sikur, Sukamulia, Masbagik, Aikmel, Wanasaba dan Labuhan Haji hingga ke Pringgabaya. Mengingat perjalanan yang jauh, bekal nasi bungkus tidak lupa ia siapkan untuk makan siangnya. Tempat yang paling sering di kunjungi adalah sawah-sawah di wilayah Kecamatan Pringgabaya, Wanasaba dan Labuhan Haji. Targetnya adalah para buruh tani yang kehausan di tengah sawah saat bekerja. Karena sudah ditekal lama, dagangan Amak Mus ini pun terbilang cukup diminati. Ditengah persaingan kemunculan beragam jenis penganan berbahan es. Seperti es krim dan lainnya, tidak menyurutkan semangat untuk menjual jenis es yang ternyata diambil dari orang lain. Dalam sehari ia mengambil dari pembuat es seharga Rp 70 ribu. Jika habis terjual, dalam sehari Amak Mus bisa mengantongi Rp 50 ribu sebagai laba bersihnya. Sebagai penjual es yang sudah lama. Amak Mus pun tidak segan-segan mengutangi pembeli. Pembeli yang kebetulan tidak membawa uang dengan ikhlas saja dia utangi. Pengalaman sebagai penjual keliling membuatnya tidak terlalu takut tidak dibayar. Itulah mengapa ia keliling..”Sekalian nagih..!” ucapnya. Es seharga Rp 70 ribu sudah bisa dipastikan cukup berat. Kisarannya mencapai mencapai Rp 35 kilogram (kg). Dipikul tiap hari tanpa kenal lelah. Tidak heran, punggung pria dua anak ini cukup kebal. Karena perjalanannya yang cukup jauh, tidak jarang Amak Mus tersesat. Tidak tahu jalan pulang. Ntah karena apa,, ia pun mengaku bingung kala itu. Biasanya, berangkat jam 7.00 pagi pulang jam 21.00. Namun saat ia tidak menemukan jalan pulang itu, tengah malam baru ia bisa sampai setelah sekian kali bertanya. Kehidupan keluarga yang kurang berada membuatnya tidak mampu menyekolahkan dua orang anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Cukup sampai tingkat SMA. Saat ini, kedua anaknya itupun sudah membuang diri ke negeri Jiran Malaysia. Menjadi TKI. Salah seorang diantaranya dituturkan telah menikah dan punya seorang putri. Doa dan Pengharapannya, nasib anak cucunya bisa lebih baik dari dirinya. Demikian Amak Mus.

Saturday, June 25, 2011

Akselerasi Gunung Rinjani Menjadi Destinasi Berdaya Saing




Kemolekan tujuan wisata (destinasi) wisata rinjani ingin terus dikembangkan untuk bisa memberikan manfaat lebih bagi kesejahteraan masyarakat. Mengacu pada rencana strategis nasional 2010-2014, ada 29 destinasi di 22 Provinsi yang akan dibentuk menjadi destinasi wisata yang berdaya saing. Gunung Rinjani dan Gunung Tambora yang dimiliki NTB masuk diantara 29 destinasi yang akan disentuh dengan program akselerasi destinasi yang berdaya saing. Yakni dikelola melalui konsep Destination Managemen Organization (DMO).


“NTB ini luar biasa satu-satunya provinsi yang mendapatkan dua destinasi yang akan dikelola dengan DMO,” ungkap Kepala Sub Direkktorat (Kabubdit) Keterpaduan Antar Wilayah Direktorat Jendral Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) RI, Drs. Agus Priyono, MM kepada wartawan di sela Focus Group Diskusi (FGD) di Masbagik Lotim, Rabu (22/6) kemarin.

Destinasi wisata diharapkan bisa memberikan hasil yang nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karenanya, diperlukan keterlibatan masyarakat langsung. Kolaborasi para pelaku wisata dengan masyarakat. Destinasi wisata yang dikembangkan juga tetap menjaga kelestariannya. Tidak merusak lingkungan.

Agus mencontohkan, salah satu cara pengelolaan wisata yang dirancang tahun 1980-an yang kurang tepat adalah pengelolaan Bali. Dimana saat ini bali terkesan sudah sangat sesak. Tanah Toraja Sulawesi, destinasi wisata lainnya saat ini sudah sangat sulit terjangkau. Danau Toba, Sumatera dipersoalkan dengan kerusakan lingkungannya.

Tidak diinginkan, kejadian yang menimpa Bali, Toraja dan Toba itu berlaku di NTB. “NTB ini harus beda cara pengelolaan pariwisatanya. Harus dengan cara sendiri,” ungkapnya. Terpenting, dengan sentuhan DMO masyarakat di sekitar destinasi wisata tidak menjadi penonton namun turut diberdayakan, lingkungan tetap terjaga. Sehingga Destinasi wisata tetap bisa dinikmati sampai anak cucu. Komitmen pemerintah daerah, menjadi tonggak utama memulai pembangunan destinasi wisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Lotim, Ghufranuddin menyampaikan Gunung Rinjani merupakan asset pariwisata NTB. Gunung tertinggi di NTB itu 54 persen berada di kawasan Lotim. Pengelolaan Rinjani dihajatkan bisa memberikan nilai ekonomis yang nyata untuk kesejahteran masyarakat sekitar. Dimana, sektor pariwisata ini bisa menjadi pendongkak perekonomian.

Mengacu pada data jumlah kunjungan wisatawan ke Gunung Rinjani, catatan Rinjani Tracking Management Board (RTMB) sejak tahun 2008 sampai 2010 terus mengalami peningkatan. Masing masing 8.037 orang tahun 2008, sebanyak 8.542 tahun 2009 dan tahun 2010 mencapai 11.547. Sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara.