Monday, July 18, 2011

Orang Miskin Sebaiknya Jangan Sakit!


Mentari sore waktu itu masih memancarkan panas trik mentari yang terasa masih menyengat. Darii sudut Gang Orong Teker (Ortek) di sebuah perkampungan padat penduduk Desa Terara Utara Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Rizky Ikhtiar menangis. Anak kedua Zulkarnaen seperti memberitahukan penderitaannya. Karena tangisannya tidak seperti anak-anak seusianya.

RIZKY Ikhtiar, hidup kurang normal. Matanya sebelah kanan menyembul keluar. Pengakuan seorang dokter yang pernah mendiagnosanya, ia tengah mengidap tumor. Setahun sudah lamanya, balita malang ini mengidap penyakit yang katanya pernah pernah diklaim juga sebatas katarak biasa. Namun makin hari, benjolan daging makin membesar. Parahnya lagi, nanah mengalir dari sela-sela daging yang tumbuh itu.

Zulkarnaen tidak kuasa. Lagi-lagi, alasan kemiskinan yang melilit keluarganya membuatnya tidak mampu membiayai anaknya berobat dengan biaya besar. Apalagi menyebut akan operasi. Makelar perempatan yang memiliki penghasilan tidak tetap ini tak hanya mengharapkan belas kasih dan bantuan dari orang lain.

Kartu Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) yang dimilikinya tidak mampu menolong anaknya. Padahal sedari awal ketika cara pengobatan medis ditempuh, cukup lancar prosesnya. Namun ketika ingin lebih, termentahkan oleh prosedur yang meribetkan.

Zul menuturkan, pada mulanya berdasarkan hasil pemeriksaan pertama di dokter mata RSUD Selong, anaknya divonis mengidap tumor. Oleh sang dokter, ia pun diminta untuk dirujuk ke RSU Provinsi NTB di Mataram. Sayang sungguh disayang, ketika diperiksa di rumah sakit yang terbakar belum lama itu, ia justru hanya mendapatkan hasil diagnosa yang berbeda. “ini sih cuma katarak biasa,” ucapnya menirukan acapan sang dokter di RSUP NTB itu.

Kini semua bola mata anak laki-lakinya itu seperti menyembul semua keluar. Hal itulah yang membuat keluarga miskin ini semakin membingungkan. Para dokter seperti mempermainkannya. “Benar-benar tumor atau hanya katarak biasa,”…Beberapa waktu lalu, Zul pun mencoba datang lagi ke RSU terbesar di NTB. Karena rujukan dokter di RSUD Selong ke RSUP itu segera saja dioperasi.

Kembali, jawaban kurang memuaskan diterima dari RSU Provinsi. “Disini sudah tiga tahun alatnya rusak. Kalau mau dioperasi di sini, bawa saja alat yang ada di Lotim itu ke sini,” ungkap Zul menirukan kembali ucapan tim medis yang menerimanya.

Semakin memilukan kembali, saat ia tidak bisa mendaftar. Pertanyaan dari tim medis yang melayaninya, “Pakai bayar atau JPS?” karena keadaan yang memang demikian adanya, jamkesmas yang menjadi andalan ternyata tidak mampu menolong anaknya. Zul pun beranggapan, dikarenakan hanya mengandalkan jamkesmas, ia pun mendapatkan pelayanan yang kurang diprioritaskan. Ia pun mencoba membuatkan Surat Keterangan Tanda Miskin (SKTM) untuk anaknya. Meski sudah mengurus itu, keinginannya untuk bisa dioperasi dengan dana bantuan pemerintah tidak kunjung terwujud.

Harapannya kini cuma satu. Anak kesayangannya dapat segera dioperasi saja. Pasalnya, melihat kondisi anaknya yang juga pernah dioperasi bibir sumbing ini sudah cukup memprihatinkan. Makin hari makin membesar. Kini ada salah seorang yang coba ingin membantunya. Namun sebatas untuk mengurus proses mendapatkan jaminan dari pemerintah.

Keluarga sederhana ini kini hanya bisa menunggu. Menunggu kapan keajaiban itu akan datang membantu anaknya. Soal berobat ke dukun sudah tidak terhitung dilakukan. Urusan makan pun katanya kerap ditunda demi pengobatan sang anak.

Sosial maker Lotim, Ujipuddin menaruh harapan serupa kepada semua pihak agar bisa membantu pasien miskin. Tidak saja Rizky Ikhtiar, namun ratusan orang di Lotim memiliki nasib serupa. Utamanya diluar biaya medis. Mustahil bisa menerima perawatan medis sementara biaya mengantarkan ke tempat perawatan medis itu tidak ada.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Lotim H. Suroto menuturkan ia saat ini sedang mengusahakan proses pemberian jaminan kesehatan pada balita malang itu. Rujukan untuk ke rumah sakit Sanglah Denpasar Bali sedang dipersiapkan. Ketidakjelasan diagnosa dokter tampaknya menjadi pemicu belum jelasnya penanganan medis yang harus diberikan pada balita Rizky Ikhtiar itu.

Mengenai Jamkesmas Suroto ini mengatakan sudah cukup berlebih pemberiannya kepada warga miskin Lotim. Disebutkan penerima jamkesmas secara keseluruhan sebanyak 511.650. dari jumlah itu, jika mengacu pada jumlah penduduk di Lotim berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 lalu, 1,2 juta jiwa maka sudah mencapai 50 persen penduduk Lotim yang menerima jamkesmas. Padahal jika mengacu pada persentase penduduk miskin hanya 23,95 persen akan tercatat semestinya 260 ribuan penduduk miskin di Lotim.

Meski demikian, saat pendataan masih ada penduduk yang mengaku miskin yang mengaku belum mendapatkan jamkesmas. Hadirnya jaminan kesehatan daerah (Jamkesda) yang dikeluakan Pemerintah Provinsi untuk Lotim 71.388 orang menambah catatan jumlah penduduk Lotim yang menerima jaminan kesehatan dari pemerintah.

“Jadi total penerima jamkesmas dan jamkesda ini mencapai 583.036 orang, sudah cukup banyak,” penilaiannya. Belum menerima diberikan lagi SKTM. Dengan demikian, menurut Suroto, tidak ada lagi sebenarnya warga yang miskin.

Mengingat hal itu, sangat diharapkan Suroto Jamkesmas dan jamkesda itu bisa benar-benar tepat sasaran. “Kalau kita kan hanya melayani jamkesmas, soal siapa yang diberikan itu ditetapkan oleh dusun dan desa. Kalau kadusnya sudah bilang ini miskin ya kita berikan saja,” demikian.

Untuk Jamkesda yang ditinggal mati bisa digantikan ke orang lain. “Kalau Jamkesmas ini sudah menjadi ketentuan pusat, tidak bisa kita ganti meski pemilik sudah meninggal,” tuturnya menambahkan.

Soal pelayanan, diyakini sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Bantahannya, selama ini tidak ada istilah tebang pilih. Dipastikan, semua dilayani dengan baik. Kendalanya memang, biaya memenuhi kebutuhan lain selain untuk keperluan medis. Biaya kebutuhan hidup keluarga yang menjaga. “Soal pelayanan kesehatan sudah sangat bagus,” nilainya. Bahkan untuk biaya hidup ini tuturnya pihaknya berusaha untuk membantu mengusahakan dari pada donatur. Antara lain dari Badan Amil Zakat Daerah (Bazda).

Disadari para pelayan medis ini, faktor biaya diluar medis yang juga cukup besar menjadi persoalan sendiri bagi pihak keluarga, Menurut hemat penulis, biaya selama mendampingi, ada alokasi dana dari jamkesmas yang disalurkan. Tidak bisa dari jamkesmas, harapan dana lain bisa mengalir. Karena menjadi hal yang mustahil pihak keluarga tidak turut mendampingi proses penyembuhan. Terlebih, namanya warga miskin, selain berat pada aspek pembiayaan medis juga pada aspek ongkos.

Mengenai soal anggaran yang dipersiapkan di Lingkup Dinas Kesehatan Lotim, ditambahkan Suroto, dimasing-masing puskesmas diberikan Rp 1000/bulan/orang kepada para penerima jamkesmas. Dalam setahun diberikan Rp 12 ribu. Dari pemberian dana tersebut dirasa cukup membantu pelayanan kesehatan kepada warga miskin itu.

Humas RSUD Dr. R. Soedjono Selong, dr. Sidarta Fitriadi juga memberikan kepastian bahwa dalam pelayanan terhadap kesehatan masyarakat dipastikan sesuai dengan prosedur pelayanan medis yang telah ditetapkan. Tidak ada perbedaan pelayanan antara si kaya yang mampu bayar maupun si miskin yang hanya mengandalkan jamkesmas atau SKTM.

Di RSUD Selong ini, tahun 2011 dianggarkan dana Rp 3 miliar. Tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya sekitar Rp 2,76 miliar. Dengan alokasi anggaran itu, dipastikan bisa melayani dengan baik.

Diakui Sidarta, terkadang ada perbedaan persepsi antara warga dengan tim medis. Bagi para tim medis, bantahan Humas RSU ini jika sudah sesuai prosedur yang telah ditetapkan maka sudah benar langkah-langkah dan pelayanan yang diberikan. “Memang terkadang kita berbeda pandangan,” ucapnya.

Untuk di RSUD Selong sendiri, berupaya untuk melayani dengan baik sesuai prosedur. Sebagai contoh dalam pelayanan operasi pasien, Sidarta memberikan kepastian semua yang telah mendaftar tidak membutuhkan waktu lama menunggu. Antrean untuk operasi diakui ada. Tapi tidak akan berselang lama. Karena tenaga dokter dan alat medis yang ada dirasa sudah cukup memadai.

Disebutkan Sidarta, tercatat dalam sebulan terakhir sebanyak 79 orang yang akan operasi. Tim dokter RSUD Selong ini bisa melayani pasien operasi 2 orang /hari. “Jarak antrean paling lama dua bulan,” ucapnya. Itupun bagi yang tidak emergensi. Terhadap pasien yang emergensi, tidak akan dibiarkan menunggu lama. Delapan dokter spesialis, yakni bidang kandungan, penyakit dalam, anak, bedah dan mata siap melayani.

Mengenai jenis penyakit yang diderita warga Lotim, terbanyak berupa tumor jinak leher. Pasien yang tidak bisa ditangani di RSUD Selong tanpa menunggu proses panjang langsung dirujuk ke rumah sakit yang dipandang bisa memberikan solusi terhadap kesehatan pasien.***

Thursday, June 30, 2011

MAJIKAN ARAB Keluarkan UANG BANYAK untuk BELI TKW

Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terbilang sebagai daerah penyumbang TKI terbesar di NTB. Data di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transimigrasi (Disosnakertrans) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim menyebut total TKI asal Lotim ini mencapai 10.183 pada tahun 2011 ini saja. Sebagian besar menuju Malaysia dan Arab Saudi menjadi tujuan utama kedua.

Data terakhir memasuki pertengahan tahun 2011 ini, Disosnakertrans Lotim mencatat TKI yang ke Arab sudah mencapai 793 orang. Sebagian besar bekerja disektor non formal, yakni menjadi pembantu rumah tangga sebanyak 782 orang sedangkan laki-laki hanya 11 orang.

Berdasarkan data tersebut, diterangkan Kepala Dinas (Kadis) Disosnakertrans Lotim H. Sirman sebagian besar TKI ke Arab bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pilihan kerja di sektor non formal itu diakui terbanyak karena paling banyak permintaan.

Pasca Kebijakan pemberhentian sementara alias moratorium yang keluarkan Pemerintah, jajaran Pemkab Lotim melalui Kadisosnakertrans, H. Sirman mengatakan terhitung sejak Selasa (28/6) lalu sudah pula melakukan pemberhentian sementara pemberangkatan para TKI ke negeri Arab tersebut. “Kita juga sudah memberhentikan sejak hari ini (Selasa-red),” ujarnya ketika dikonfirmasi Suara NTB.

Keberadaan TKI asal Lotim yang bekerja di Arab sejauh ini dipandang aman-aman saja. Tidak ada informasi yang didengar mengalami masalah. Di soal mengenai ada indikasi jual beli TKW khusus ke Arab ini, Sirman enggan memberikan pernyataan. “Saya tidak berani komentar terkait hal itu,” ucapnya.

Jelasnya, proses pemberangkatan para TKI ke negeri Arab melalui proses pelatihan dulu. Yakni mengikuti proses pelatihan di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN). Terhitung sejak Selasa itu pula, pemkab Lotim memberhentikan proses pemberangkatan TKI yang akan diikutikan dalam proses pelatihan itu.

Adanya indikasi jual beli TKW ternyata bukan isapan jempol. Temuan Suara NTB berdasarkan penuturan sejumlah mantan TKW yang berhasil diwawancara, ternyata sebagian besar TKW dibeli oleh sang majikan. Seperti dituturkan Raihanun, salah seorang mantan TKW asal Desa Wanasaba Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lotim. Terhitung sejak usia belasan tahun katanya dirinya sudah menginjak tanah Arab.

Empat kali sudah ia lalu lalang ke Negeri Unta itu menjadi pembantu rumah tangga. Keberangkatannya ke Negeri Arab melalui Perusahaan Penggerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) selama ini memang berjalan mulus. Ditanya soal jual beli TKW, diakuinya memang demikian adanya. “Kita memang dijual,” tuturnya.

Sang majikanlah yang membeli ke PJTKIS ini. Harganya pun mulai dari kisaran jutaan rupiah. Semua proses pemberangkatan menuju ke rumah sang majikan dibiayai oleh Majikan. Andil dari PJTKIS sendiri tidak diketahui, bahkan dipertanyakan.

“Mulai tiket, ongkos ke rumah majikan semuanya ditanggung oleh Majikan. Jadi kita sebenarnya memang dibeli dari PJTKI,” terangnya. Padahal di PJTKIS sendiri, ada keharusan bagi sang TKI untuk membayar. “Kita memang diminta uang, ada yang Rp 2 juta,” imbuhnya.

Raihanun menambahkan ia tahu dirinya dijual itu dari penuturan sang Majikan sendiri. Saat duduk-duduk santai, biasanya ia menyempatkan diri ngobrol dengan sang majikan. Sang Majikan mengaku aneh malah ketika mengetahui ada keharusan pembantunya membayar hutang kepada PJTKI. “Saya kan sudah mengirimkan uang ke Indonesia menebus kamu,” ucapnya mengutip penyataan sang majikan. Tidak jarang juga, gaji beberapa bulan pertama di potong langsung oleh PJTKI yang memberangkatkan.

Dikarenakan sebagian besar di jual itulah yang membuat sang Majikan terkadang arogan. “Saya bayar kamu mahal-mahal untuk bekerja dengan baik dengan saya,” demikian ucap Raihanun menuturkan ungkapan yang biasa terlontar dari mulut sang Majikan. Menyikapi hal itu, tidak ada hal lain yang harus dilakukan kecuali bersikap baik. Karena sang Majikan memang merasa berkuasa dengan uangnya.

Kuncinya agar bisa sukses, terang Raihanun adalah menjaga sikap tetap baik kepada majikan. Tidak pernah melawan dan selalu menuruti apa kemauan majikan. Inilah titik nadirnya menjadi TKW di negeri Arab. “Tergantung kita sebenarnya juga,” ucapnya. Menurutnya, jika pembantu bersikap baik maka orang Arab ini akan bersikap sangat baik juga.

Terkadang kerap terjadi masalah jika tidak mampu disikapi dengan baik. Seperti saat berhadapan dengan anak sang Majikan. Ketika berhadapan dengan anak majikan inilah yang kerap menjadi biang masalah. Jika salah sedikit saja, anak majikan ini kerap mengadu pada orang tuanya.

Disitulah yang menjadi pemicu masalah. “Anak-anak majikan ini kadang-kadang nakal-nakal, kita marahin sedikit diaduin ke orang tuanya. Kita lalu dimarah sama orang tuanya,” keluhnya. Pengalaman Raihanun sendiri disyukuri sejauh ini tidak sepahit seperti pemberitaan dimedia. Kepiawaiannya menyikapi semua masalah bisa mengeluarkannya dari masalah.

Mengenai gaji, tergantung kebaikan sang Majikan. “Kalau saya dulu Rp 600 real, sekarang katanya sudah sampai 800 real,” imbuhnya. Soal waktu, tergantung pula dari keinginan sang majikan. Ada yang bekerja dari sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat sampai sore. Ada juga yang sampai malam hari.

Menjadi TKW di Arab, jika tidak persiapkan diri dengan matang disarankan Raihanun untuk tidak dilakukan. Pasalnya, karakter sifat dan prangai orang-orang Arab beda dengan orang Indonesia. Jika tidak siap mental, maka kerap akan mengalami tekanan batin.

Jika melihat mudahnya mendapatkan uang Raihanun mengaku pingin kembali bekerja menjadi TKW. Namun setelah mendapatkan informasi dan adanya larangan dari pemerintah ia pun mengurungkan niatnya untuk berangkat lagi. Lebih-lebih saat ini ia sudah memiliki seorang putri dan larangan dari suami. Ditanya soal nama PJTKIS yang memberangkatkannya, Raihanun mengaku tidak menghafal nama-namanya.

Pengalaman sedikit berbeda dialami Sadariyah, TKW Arab asal desa Suralaga Kecamatan Suralaga. Dihubungi secara terpisah, TKW yang menjadi pembantu rumah tangga di Kota Dammah Arab Saudi ini mengaku sangat senang bekerja. Majikan sangat baik padanya.

Tamat di bangku Madrasah Tsnawiyah (MTs), beberapa tahun lalu ia memilih menjadi TKW karena himpitan ekonomi keluarga. Dua tahun lamanya ia Negeri Arab itu. Selama itu, majikan tidak pernah berbuat kasar. Bahkan ia berencana bulan ini akan kembali lagi ke negeri Arab.

Tiket pun sudah dipesankan oleh Majikan. Mengetahui adanya larangan berangkat, sepertinya kurang digubris oleh Sadariyah ini. Pasalnya, sang Majikan mengaku siap akan datang menjemput langsung. Sejauh ini, ia pun tenang-tenang saja tidak ada persoalan.

Ditanya soal adanya jual beli TKW, Sadariyah menjawab enteng saja. “Saya tak tahu kalo soal tu,” ucapnya. Adanya informasi mengenai TKW Ruyati yang dihukum pancung tidak diketahui keberadaannya secara pasti oleh Sadariyah ini. Katanya ia hanya mendengar dari pemberitaan di media. Ia pun mengaku tidak percaya sepenuhnya terhadap hal itu. Karena menurutnya, orang-orang Arab itu tidak jauh beda dengan orang Lombok. “Baik-baik sama seperti orang Lombok,” demikian pengakuannya.

“Bisa Bahasa Arab?” tanyanya Kepada Suara NTB tiba-tiba ditengah obrolan. “Laa astathi’..” jawab kami kemudian singkat karena memang bahasa Arab cukup sulit jika tidak dipelajari secara intensif. Sadariyah yang bercita-cita ingin melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi ini pun mengaku siap akan mengajarkan Bahasa Arab itu. “Nanti saya ajari,” janjinya dengan logat sedikit bercampur dengan gaya ngomong ala orang Arab ini

Sunday, June 26, 2011

Es Amaq Mus

Separuh usianya sudah dihabiskan untuk memikul dua rombong besar berisi aneka jajanan dingin. Ada es mambo, es lapis dan es buatan tangan lainnya. Kini usianya menginjak 60 tahun. Amak Mus, demikian ia biasa dipanggil mencoba untuk tetap bertahan. Tidak ada pekerjaan lain yang ia bisa kerjakan. Ia harus berjalan kaki setiap hari sepanjang puluhan kilo meter mendatamgi kerumunan warga seraya menawarkan jajanannya

 “ES es es es…sss” demikian biasanya teriakan pria paru baya yang sudah 35 tahun memikul dagangannya ini kala memanggil para pembeli. Berangkat seperti jam kerjanya para Pegawai Negeri Sipil (PNS) saat pergi ngantor, dari Rumahnya di Sikur Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan-jalan kampong. Melewati kecamatan-demi kecamatan. Saat lelah datang, kendaraan ojek pun jadi pilihan. Tidak jarang juga memilih cidomo mengantarkannya ke tempat yang menjadi target pasar penjualannya. Dari desanya, terbilang sejumlah kecamatan dia lalui. Mulai Sikur, Sukamulia, Masbagik, Aikmel, Wanasaba dan Labuhan Haji hingga ke Pringgabaya. Mengingat perjalanan yang jauh, bekal nasi bungkus tidak lupa ia siapkan untuk makan siangnya. Tempat yang paling sering di kunjungi adalah sawah-sawah di wilayah Kecamatan Pringgabaya, Wanasaba dan Labuhan Haji. Targetnya adalah para buruh tani yang kehausan di tengah sawah saat bekerja. Karena sudah ditekal lama, dagangan Amak Mus ini pun terbilang cukup diminati. Ditengah persaingan kemunculan beragam jenis penganan berbahan es. Seperti es krim dan lainnya, tidak menyurutkan semangat untuk menjual jenis es yang ternyata diambil dari orang lain. Dalam sehari ia mengambil dari pembuat es seharga Rp 70 ribu. Jika habis terjual, dalam sehari Amak Mus bisa mengantongi Rp 50 ribu sebagai laba bersihnya. Sebagai penjual es yang sudah lama. Amak Mus pun tidak segan-segan mengutangi pembeli. Pembeli yang kebetulan tidak membawa uang dengan ikhlas saja dia utangi. Pengalaman sebagai penjual keliling membuatnya tidak terlalu takut tidak dibayar. Itulah mengapa ia keliling..”Sekalian nagih..!” ucapnya. Es seharga Rp 70 ribu sudah bisa dipastikan cukup berat. Kisarannya mencapai mencapai Rp 35 kilogram (kg). Dipikul tiap hari tanpa kenal lelah. Tidak heran, punggung pria dua anak ini cukup kebal. Karena perjalanannya yang cukup jauh, tidak jarang Amak Mus tersesat. Tidak tahu jalan pulang. Ntah karena apa,, ia pun mengaku bingung kala itu. Biasanya, berangkat jam 7.00 pagi pulang jam 21.00. Namun saat ia tidak menemukan jalan pulang itu, tengah malam baru ia bisa sampai setelah sekian kali bertanya. Kehidupan keluarga yang kurang berada membuatnya tidak mampu menyekolahkan dua orang anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Cukup sampai tingkat SMA. Saat ini, kedua anaknya itupun sudah membuang diri ke negeri Jiran Malaysia. Menjadi TKI. Salah seorang diantaranya dituturkan telah menikah dan punya seorang putri. Doa dan Pengharapannya, nasib anak cucunya bisa lebih baik dari dirinya. Demikian Amak Mus.

Saturday, June 25, 2011

Akselerasi Gunung Rinjani Menjadi Destinasi Berdaya Saing




Kemolekan tujuan wisata (destinasi) wisata rinjani ingin terus dikembangkan untuk bisa memberikan manfaat lebih bagi kesejahteraan masyarakat. Mengacu pada rencana strategis nasional 2010-2014, ada 29 destinasi di 22 Provinsi yang akan dibentuk menjadi destinasi wisata yang berdaya saing. Gunung Rinjani dan Gunung Tambora yang dimiliki NTB masuk diantara 29 destinasi yang akan disentuh dengan program akselerasi destinasi yang berdaya saing. Yakni dikelola melalui konsep Destination Managemen Organization (DMO).


“NTB ini luar biasa satu-satunya provinsi yang mendapatkan dua destinasi yang akan dikelola dengan DMO,” ungkap Kepala Sub Direkktorat (Kabubdit) Keterpaduan Antar Wilayah Direktorat Jendral Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) RI, Drs. Agus Priyono, MM kepada wartawan di sela Focus Group Diskusi (FGD) di Masbagik Lotim, Rabu (22/6) kemarin.

Destinasi wisata diharapkan bisa memberikan hasil yang nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karenanya, diperlukan keterlibatan masyarakat langsung. Kolaborasi para pelaku wisata dengan masyarakat. Destinasi wisata yang dikembangkan juga tetap menjaga kelestariannya. Tidak merusak lingkungan.

Agus mencontohkan, salah satu cara pengelolaan wisata yang dirancang tahun 1980-an yang kurang tepat adalah pengelolaan Bali. Dimana saat ini bali terkesan sudah sangat sesak. Tanah Toraja Sulawesi, destinasi wisata lainnya saat ini sudah sangat sulit terjangkau. Danau Toba, Sumatera dipersoalkan dengan kerusakan lingkungannya.

Tidak diinginkan, kejadian yang menimpa Bali, Toraja dan Toba itu berlaku di NTB. “NTB ini harus beda cara pengelolaan pariwisatanya. Harus dengan cara sendiri,” ungkapnya. Terpenting, dengan sentuhan DMO masyarakat di sekitar destinasi wisata tidak menjadi penonton namun turut diberdayakan, lingkungan tetap terjaga. Sehingga Destinasi wisata tetap bisa dinikmati sampai anak cucu. Komitmen pemerintah daerah, menjadi tonggak utama memulai pembangunan destinasi wisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Lotim, Ghufranuddin menyampaikan Gunung Rinjani merupakan asset pariwisata NTB. Gunung tertinggi di NTB itu 54 persen berada di kawasan Lotim. Pengelolaan Rinjani dihajatkan bisa memberikan nilai ekonomis yang nyata untuk kesejahteran masyarakat sekitar. Dimana, sektor pariwisata ini bisa menjadi pendongkak perekonomian.

Mengacu pada data jumlah kunjungan wisatawan ke Gunung Rinjani, catatan Rinjani Tracking Management Board (RTMB) sejak tahun 2008 sampai 2010 terus mengalami peningkatan. Masing masing 8.037 orang tahun 2008, sebanyak 8.542 tahun 2009 dan tahun 2010 mencapai 11.547. Sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara.

Pemkab Lotim Akan Dirikan Perusda Penyalur TKI

Kabupaten Lombok Tumur (Lotim) disebut sebagai daerah paling banyak se NTB warganya yang bekerja menjadi TKI. Yakni sekitar 36 persen diketahui atau sebanyak 14 ribu lebih. Sejumlah fakta ditemukan, tidak sedikit para TKI dikibuli. Menyadari fakta pahit itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim sedang merancang pendirian Perusahaan Daerah (Perusda) yang khusus sebagai penyalur para TKI.

Demikian disampaikan Bupati Lotim, H.M. Sukiman Azmy saat menerima kunjungan Duta Besar Luar Biasa dan Bekuasa Penuh (LBBP) Indonesia Bandar Seribegawan Brunai Darussalam, Handriyo Kusumo Priyo di dampingi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transimigrasi (Kadisnakertrans) NTB Ir. Mokhlis, MSi dan sejumlah pemilik PJTKI di Pendopo Bupati Lotim, Selasa (21/6) kemarin.

Pandangan Bupati, terlihat para pengarah TKI ke luar negeri makin hari makin kaya. Sementara keberadaan para TKI dianggap masih memprihatinkan. Didirikannya perusahaan pengarah TKI ini dimaksudkan bukan untuk menyaingi PJTKI yang telah ada. Namun, smeata ingin menjembatani dan membantu para TKI dari aspek permodalan.

Jajaran Pemkab Lotim sudah menghadap sejumlah pimpinan perbankan. Meminta diberikannya Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada TKI dan Pemda siap sebagai jaminan. KUR diharapkan bisa menjadi modal bagi para calon TKI untuk mengurus keberangkatannya. Campur tangan Pemda ini karena dilihat sejauh ini masih banyak perbankan yang enggan memberikan KUR kepada TKI. “Sampai sekarang banyak Bank yang tidak memberikan KUR pada TKI,” tegasnya.

Bupati menerangkan, keberadaan TKI asal Lotim di luar negeri sangat membantu kehidupan masyarakat Lotim. Dimana, Lotim dengan tingkat kemiskinan tertinggi di NTB. Dari 1,2 juta jiwa penduduk Lotim, sebanyak 25 persen atau sekitar 270 ribu lebih merupakan penduduk miskin.

Hanya saja dikeluhkan Bupati, jumlah remittance para TKI yang diterima masyarakat Lotim untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya tahun 2009 dibanding tahun 2010 mengalami penurunan. Tahun 2009 tercatat sebanyak Rp 238,3 miliar menurun menjadi Rp 198 miliar tahun 2010.

Persoalannya diakui Bupati banyak TKI asal Lotim ini yang bekerja dengan tingkat pengetahuan rendah. Catatannya sebanyak 85 persen tamatan SD bahkan ada yang buta huruf. Sebanyak 15 persen tamatan SMP dan 1 persen saja yang tamatan SMA sederajat. Tamatan pendidikan yang sejatinya memiliki skill, seperti Diploma I sampai Diplima III nihil. “Tamatan D1 sampai D3 nol persen,” imbuhnya.

Disampaikan Hanya mengandalkan tenaga, yakni sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Bekerja hanya sebagai buruh kasar saja. Harapannya, dengan telah dibentuknya Balai Latihan Kerja Internasional (BLKI) ke depan bisa mengirim tenaga-tenaga trampil. Bupati menginginkan, adanya keberimbangan antara kuantitas TKI dengan kualitasnya.

Friday, June 24, 2011

Terminal Pancor Akan Dijadikan Mall??

Tercatat sudah satu dekade, 10 tahun terminal Pancor Kecamatan Selong kurang begitu dimanfaatkan secara optimal. Fakta itu kemudian seperti memaksa Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) untuk beralih fungsi pemanfaatannya. Pemkab Lotim ini kemudian menggandeng Investor dari Korea yang akan medirikan pusat perbelanjaan, mall dan hotel di kawasan Terminal Pancor tersebut.

Demikian disampaikan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Amunullah dalam rapat lanjutan membahas Memorandum of Understanding (MoU) alias nota kesepahaman antara Pemkab Lotim dengan PT. Indonesia International Development Company milik Investor asal Korea.

Lokasi terminal dipandang cukup refresentatif sebagai pusat perbelanjaan modern. Disamping itu, ada rencana pembangunan hotel berbintang. Dengan demikian, jika terealisasi, Lotim bisa memiliki fasilitas hotel yang refresentatif. “Selama ini kan Lotim hanya punya Losmen,” sebutnya.

Mengenai nama pusat perbelanjaan itu, Bupati Lotim, H.M. Sukiman Azmy kata Aminullah akan meresmikan sendiri. “Apakah nantinya berdama Mall Selong, Mall Pancor atau lainnya,” tuturnya. Mengacu pada pengalaman proses pembangunan, Staf Ahli ini meminta dapat diberikan gambaran yang jelas mengenai Master plan gedung yang akan dibangun. Harapannya, ketika nanti dibahas bersama anggota dewan dapat dengan mudah diterangkan.

Selanjutnya diterangkan Konsultan pembangunan mall dari pihak PT. Indonesia International Development Company, Supra Dewa, pihaknya meminta luas lahan 20.000 meter persegi. Ia sudah menyampaikan hal itu kepada Bupati Lotim langsung dan mendapatkan. Dari penjelasan Supra Dewa ini, terlihat rencana pembangunan sudah cukup matang. Dilihat dari telah dirancangnya MoU dan master plan gedung yang akan dibangun.

Saat bertemu dengan Bupati, Supra Dewa menuturkan nama diusulkan Bupati adalah Selaparang Mall. “Katanya mengacu pada kearifan lokal,” tuturnya. Dalam clausul draf MoU pasal demi pasal diterangkan Supra Dewa, tahap pembangunan terhitung mulai tahun 2011-2017 mendatang. Terbagi menjadi dua tahap. Pertama tahun 2011 sampai tahun 2013. Yakni pembangunan gedung Mall tiga lantai. Di dalamnya ada swalayan, departemen store dan fasilitas hiburan lainnya.

Tahap ke dua baru membangun hotel lima lantai. Di dalam hotel itu ada retauran, kolam renang dan meeting room. Hal itu sesuai dengan permintaan Bupati, dimana Lotim katanya kekurangan ruang pertemuan dewasa ini.

Investor disebut sebagai pihak pertama dalam MoU tersebut diwajibkan mengeluarkan uang jaminan senilai Rp 1 miliar. Dana itu disetor ke Bank daerah. Baru boleh diambil setelah 10 persen bangunan fisik selesai.

Keberadaan Mall dan fasilitas perhotelan yang menjadi satu-satunya di Lotim siap akan membayar royalty senilai Rp 150 juta pertahun ditahun pertama. Setiap tahunya, dijanjikan akan meningkat minimal 5 persen. Royalti itu diluar pajak dan retribusi lainnya, seperti parkir. Dimana untuk parkir saja akan diserahkan 30 persennya.

Jika pembayaran retribusi, royalti dan pemenuhan kewajiban investor ini terlambat maka sanksi juga cukup terang diatur dalam MoU tersbeut. Antara lain diharuskan membayar denda sebagaimana ketentuan lebih lanjut.

Mengenai batas waktu kontrak, dalam sebuah pasal di MoU tersebut menyatakan batas waktu kontrak pertama adalah 30 tahun. Baru kemudian melakukan perpanjangan. Perpanjangannya pun paling lama 20 tahun.

Sangga Sembalun

Sebelum krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 silam, kawasan pertanian Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terkenal dengan komoditi bawang putih. Sebuah komoditi andalan yang selama satu dekade ini telah lenyap. Tahun 2011 ini, bawang putih dengan varietas unggulan Sangga Sembalun yang mulai langka ini coba untuk diselamatkan.

Dituturkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lotim, Ir. H. L. Khalid Tarmizi bersama salah seorang Penggerak Membangun Desa (PMD) Sembalun, Ruspaeni, SP menyatakan pada masa jayanya bawang putih Sembalun, masyarakat petani terbilang cukup sejahtera. “Gara-gara bawang putih, satu desa bisa naik haji di Sembalun,” papar Khalid.

Varietas Sangga Sembalun telah menjadi varietas langka. Menyadari hal itu, pemerintah pusat telah mencoba memberikan bantuan benih langsung kepada petani agar melakukan penangkaran terhadap benih ini. Penanaman bawang putih ini juga bagian dari upaya menghalau laju impor bawang putih yang cukup besar dewasa ini.

Sekitar 2 hektar (ha) diminta pusat untuk dikembangkan. Oleh para petani Sembalun kemudian mengembangkannya menjadi 3,25 hektar. “Total bibit yang telah disiapkan sekitar 3 ton,” timpal Ruspaeni.

Upaya penyelamatan bibit langka ini sudah mulai dilakukan dan hasilnya cukup bagus. Hasil panen diniatkan Ruspaeni tidak untuk dijual. Namun untuk dikembangkan dulu sampai benar-benar cukup banyak dan tidak menjadi langka. Diupayakan juga, ke depan ada sertifikasi benih Sangga Sembalun ini. Karena satu-satunya hanya ada di Sembalun.

Di sejumlah daerah lain, ada varietas Limbu Hijau milik daerah Karang Anyar Jawa Tengah. Varietas ini sudah disertifikasi. Ada juga jenis varietas lain, yang disebut limbu kuning. Varietas Sangga Sembalun dipandang memiliki keunggulan jauh dibandingkan limbu kuning maupun limbu hijau. Baik dari segi produktivitas maupun dari segi rasa termasuk nilai jual.

Sangga Sembalun mampu produksi rata-rata 35 ton perhektar, sedangkan limbu kuning dan limbu hijau hanya mampu maksimal sampai 10-20 ton perhektar. Menghasilkan bawang putih yang bagus, dibutuhkan waktu hanya 120 hari.

Mengenai nilai jual, Sangga Sembalun terbilang cukup mahal. Harga yang baru panen, masih dalam kondisi basah bias mencapai Rp 950-1 juta per kwintal. Kondisi kering bisa dijual seharga Rp 2,5 juta per kwintal. Paling mahal harga benihnya yang bisa tembus Rp 4 juta perkwintal. Mengingat harga benih yang cukup mahal itulah, pada proses awal penanaman ini petani sepakat untuk tidak menjadikan benih terlebih dahulu.

Soal rasa, kandungan astiri bawang putih varietas Sangga Sembalun ini cukup tinggi. Siung bawang ini juga cukup besar. Tidak kalah saing dengan bawang-bawang hasil impor