Thursday, September 23, 2010

Jual Jagung Berkualitas Pastikan Margin Lebih Besar


Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) NTB, Ir. Pending Dadih Permana, MEc. Dev., mengutarakan selama ini jagung yang dijual petani tanpa standar mutu. Kualitas jagung yang dihasilkan masih dibawah standar nasional Indonesia (SNI). Akibatnya, keuntungan yang diperoleh petani pun minim. Karenanya, coba diajak untuk menjual jagung yang berkualitas, dengan demikian margin keuntungan yang diterima petani bisa lebih besar.

Dikatakan, jagung yang terjual tanpa great SNI itu hanya Rp 1.600-1.800 perkilogram. Masuknya, i-Pasar yang menawarkan sistem lelang telah mampu meningkatkan margin keuntungan yang cukup besar bagi petani.

Karenanya, jagung-jagung yang masih dibawah standar itu coba ditingkatkan kualitasnya. Salah satu caranya, menurunkan kadar air hingga 14 persen. Sejauh ini, jagung yang dihasilkan petani utu setelah dianalisis mampu menjadi jagung dengan great mutu II-III. Jagung yang masuk mutu III dalam spot lelang ini selama ini dihargakan dengan harga standar Rp 2.200 perkilogram.

“Kemarin yang mutu III ada yang terjual dengan harga Rp 2.385 perkilogramnya, dan itu menjadi penawaran tertinggi,” tutur Dadih.

Dijelaskan, sistemnya selama ini jagung yang diperoleh dari gabungan kelompok tani diterima dalam bentuk kemasan 50 kg masuk ke gudang. Ketika masuk proses lelang, langsung dengan harga standar Rp 2.200 perkilogramnya. Saat lelang, selalu melebihi harga standar itu. Bahkan jagung mutu I dan dua pernah terjual dengan harga Rp 2.630 perkilogram.

Disoal tentang produksi, tahun 2010 ini bisa mencapai 370 ribu ton. Sepertiga dari total produksi itu diharapkan bisa masuk dalam proses lelang di i-Pasar. Masih minimnya target lelang ini karena minimnya gudang yang siap menampung.

Gudang di NTB sejauh ini hanya mampu menampung 3.200 ton. Yakni yang berada di Lombok Timur (Lotim) dan di Lembar Lombok Barat. “Kita intensif gunakan yang di Lotim,” ucap Dadih. Selama ini, proses lelang dengan media i-Pasar ini sudah acap kali dilakukan, Terakhir pada awal Agustus 2010 lalu, tercatat 520 ton dilelang.

Kepastian keuntungan lebih bagi petani ini tidak saja pada penjualan, dipastikan sebelum masuk proses lelang pun jagung-jagung petani sebagian besar bisa dibayarkan. Dimana, petani yang memasukkan jagungnya ke gudang serah akan mendapatkan i-Resi. Hal ini menjadi alat bukti bahwa petani sudah menyetorkan barang ke gudang. i-Resi itu dapat dicairkan 70 persen dari nilai barangnya sebelum proses lelang dilakukan.

Dadih menambahkan, ke depan akan ada proses lelang melalui Forward. Untuk kegiatan lelang ini, telah dilakukan kontrak dengan tiga gabungan kelompok tani (gapoktan), di Lotim, Lombok Utara dan KLU dan ada pengusaha yang siap membeli.

Pembangunan di Bidang Pertanian Tidak Ada yang Istimewa


GURU Besar Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), Prof. Ir. H. Mansur Ma’shum, PhD., menilai selama dua tahun kepemimpinan TGH. M. Zainul Majdi, MA., dan Ir. H. Badrul Munir, MM., sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur tidak ada yang istimewa dan yang bisa dibanggakan dalam capaian pembangunan pertanian. “Kalau refleksi itu kan sebenarnya harus ada yang istimewa,” ungkapnya.

Sisa waktu yang tiga tahun terangnya menjadi waktu bagi Gubernur dan jajarannya untuk memingkatkan komitmen dan pembangunan dibidang pertanian. Dinilai, selama ini komunikasi antara Gubernur dengan Satuan Kinerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup pemerintah provinsi NTB dan dengan para peneliti dianggap kurang intensif.

Padahal, sempat Wagub memberikan kritik pada perguruan tinggi soal hasil-hasil penelitiannya. “Kalau kita sudah sampai inseminasi,” terang Mansur. Dituturkan, para peneliti Unram sudah melakukan penelitian cukup banyak. Antara lain, penelitian yang mampu menghemat air 56 persen di Sengkol dan Mujur Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Teknologi tersebut sudah mendapatkan pengakuan ditingkat internasional. Pengakuan dari Australia, Bangladesh, Meksiko dan beberapa Negara lain. Yakni melalui penelitian itu mampu menghemat air untuk tanaman padi. Faktanya, dukungan pemerintah provinsi NTB sendiri tidak terlihat. “Kalau peneliti kan tidak punya uang,” imbuhnya.

Petani prinsipnya sangat tertarik mengaplikasikan hasil penelitian itu. Namun terbentur modal untuk membuat arsitek tanah seperti itu membuat petani tidak bisa berbuat banyak. Bicara bantuan perbankan cukup ribet dengan sebarek prosedurnya. “Keluhan petani itu telah disampaikan ke bank NTB. Direktur Bank NTB cukup merespon. Inilah namanya komunikasi,” ungkap Mansur.

Dibantah Mansur, terhadap kritikan dan masukan-masukannya kepada pemerintah provinsi ini tidak pernah ia komunikasikan langsung kepada Gubernur. Sampai sejauh ini tidak pernah ia dipanggil ataupun sengaja menghadap ke Gubernur untuk menkomunikasikan persoalan pertanian. Terlebih mengenai dugaan dirinya menyampaian usulan reshuffle SKPD rumpun hijau.

“Mansur Ma’shum tidak pernah komunikasi dengan Gubernur,” tegasnya. Ditanya pendapat apa perlu ada reshuffle para pembantu Gubernur, dengan terang dikatakan Mansur ia tidak punya kapasitas untuk bicara apa yang menjadi hak preogratif Gubernur tersebut.

Paling banyak diosoroti mantan Rektor Unram ini, adalah persoalan omprongan tembakau. Belasan ribu omprongan yang diminta beralih menggunakan bahan bakar batu bara dianggap harus terangkan betul-betul ke tengah masyarakat. Utamanya persoalan lingkungan dan dampak buruk terhadap kesehatan yang kemungkinan bisa terjadi.

Beberapa Negara maju, seperti Cina tutur Mansur sebenarnya sudah tidak lagi menggunakan batu bara. Hal itu dikarenakan dampak buruk terhadap lingkungan utamanua pada kesehatan manusia.

Kalau pemakaian skala industri besar, seperti PT. NNT yang cerobong asapnya di atas mungkin tidak menjadi persoalan. Namun pengomprong ini asapnya kemana-mana dan langsung ke masyarakat. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) aku Mansur sudah dihubungi dan mengaku sudah memikirkan hal itu. Namun, masih dipertanyakan apakah benar-benar sudah diteliti.

Sepengetahuan Mansur, secara nasional minyak tanah memang sudah mulai dikurangi. Namun ajakan menggunakan barra prinsipnya tidak sesederhana yang dibayangkan. Asap yang dikeluarkan dari cerobongnya mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan. Mengandung mercury dan logam berat yang berbahaya.

Abu asap yang berterbangan ternyata mengandung partikel halus. Tidak tampak oleh mata telanjang. Partikel pun bisa mengganggu kesehatan. Lain lagi persoalan emisi karbon (CO2) yang keluar mencemarkan udara.

Kalau satu dua oven tembakau yang beroperasi mungkin tidak bermasalah. Namun kalau 13 ribu omprongan atau 10 persen saja maka, berapa emisi karbon yang beterbangan mengancam kesehatan manusia.

Harga Tomat “Sekarat” Biaya Pemeliharaan Lebih Tinggi dari Hasil Penjualan


Petani tomat di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengeluhkan harga tomat yang sangat rendah. Beberapa petani malah menilai, beberapa bulan terakhir ini harga tomat sedang sekarat. Perkilogramnya hanya dihargakan Rp 250.

SUHAIMI, seorang petani tomat Desa Tirtanadi Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur mengaku pusing dengan harga tomat. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, harganya masih bisa membuat tersenyum.

Jika harga tomat tetap bertahan pada posisi Rp 250-500 maka petani tidak bisa apa-apa. Modal besar yang telah keluar ditambah tenaga dipastikan tidak bisa kembali. Disebutkan mulai dari harga bibit dengan merek Tombatu Rp 65 ribu perbungkus. Perbungkus hanya bisa satu are saja.

Jika dihitung perhektarnya, maka untuk keperluan bibit tomat Tombatu ini saja petani harus mengeluarkan Rp 650 ribu. Menanam jenis tomat ini, tidak bisa diatas tanah kosong. Namun butuh mulsa (penutup pematang). Perhektar harganya mencapai Rp 13 juta. Lain lagi untuk keperluan lain. Seperti kayu penyangga dari bambu yang juga harus dibeli, tali rapia dan obat-obatannya.

Bagi petani yang memiliki lahan yang luas bisa saja mensiasati dengan menanam jenis tanaman lain. Namun bagi Suhaimi yang memiliki lahan 5 are, penghasilan penjualan tomat jelas tidak akan cukup. Untuk modal awal di lahan seluas 5 are itu, mulsa butuh Rp 450 ribu, tali rapia untuk pengikat kayu butuh dana Rp 250 ribu.

Ditambah Rp 20 x 100 biji bambu menjadi tambah mahalnya modal yang harus dikeluarkan hanya untuk menanam tomat yang harganya tidak pernah ada perhatian dari pemerintah ini. Lain lagi keperluan biaya pemeliharaan. Mencabut rumput dan biaya ngompres dari serangan hama menggunakan obat dan pemupukan rutinnya.

“Kalau dihitung-hitung, harga tomat ini hanya mampu mengembalikan haga tali Rapia Rp 250 ribu,” ucap Suhaimi.

Fenomena harga komoditi pertanian seperti tidak pernah memihak petani ini adalah hal klasik yang tidak pernah dicari jalan keluarnya. Menurut Fihirudin, petani asal Desa Ijo Balit Kecamatan Labuhan Haji Lotim, petani ini tidak akan pernah sejahtera kalau perhatian pemerintah terhadap persoalan harga ini tetap saja seperti sekarang.

Bagi Fihir, persoalan mendasarnya adalah tidak adanya ketetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) bagi beberapa komoditi pertanian. Tidak diherankan katanya, petani terus mengeluhkan persoalan harga yang tidak pernah memihak pada petani. Diyakini, kalau ada HET, petani akan bisa mencatat dan menghitung sendiri kapan harus menanam komoditi ini dan komoditi yang lainnya.

Pola tanam petani saat ini diakui sesuai dengan hajat perut petani. Dimana, petani melihat berdasarkan harga komoditi mana yang paling laku dipasar. Ketika produksi melonjak naik, petani menjerit harga berpikir lebih baik membuang hasil pertanian dari pada dijual dengan harga yang menyakitkan.

Fakta terhadap keluhan petani itu, seperti membenarkan temuan Badan Pusat Statistik (BPS) NTB tentang Nilai Tukar Petani (NTP). Dimana, gambaran atas daya beli petani dan tingkat kesejahteraan petani ini kerap dibawah standar kesejahteraan. Biaya hidup petani selalu lebih mahal dibandigkan dengan hasil produksinya.

Biaya membeli pupuk, biaya membeli pestisida, biaya mencabut rumput ditambah rasa capek dibawah terik mentari yang tiap hari menyengat hingga warna kulit menyamai tanah jauh lebih mahal dari hasil karingat yang diteima. Apakah petani tetap seperti ini?? Semoga ada perubahan bagi kehidupan mereka yang memberi makan secara tidak langsung Presiden, Gubernur, Bupati dan para penentu kebijakan dan pencari solusi terhadap masalah rakyat yang dipimpinnya.

Saturday, July 24, 2010

Jadikan Berugak Tempat “Ngerumpi” yang Lebih Bermakna

Secara historis, masyarakat NTB, khususnya Lombok memiliki tradisi ngobrol. Masyarakat pedesan khususnya kerap kita lihat kumpul, ngerumpi. Tempat yang paling disenengi adalah gerdu (berugak). Selama ini kebiasaan ngerumpi dilakukan masyarakat pedesaan terkesan kurang bermakna.

SADAR akan potensi masyarakat itu, Desa Kekeri Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menggali dan memanfaatkanya. Jadikan media berugak sebagai tempat ngerumpi yang lebih bermakna.

Kepala Desa (Kades) Kekeri, Hafizin, AMd., menuturkan, pada mulanya kegiatan pembangunan di desanya hanya mengandalkan uluran tangan pemerintah. Tidak ada partisipasi dari masyarakat. Utamanya para ibu-ibu yang memiliki kebiasaan ngobrolin orang.

Hafizin yang ditemui di sela acara berbagi pembelajaran bersama berbagi pembelajaran program Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCES) yang digelar di Hotel Lombok Raya Mataram, Rabu (30/6) kemarin. Dikatakan masuknya program ACCESmenawarkan gerdu cerdas dirasakan sudah banyak perubahan signifikan yang bisa dirasakan. Antara lain, para ibu-ibu saat ini cukup bersemangat dalam setiap agenda pembangunan.

Manfaat berugak yang selama ini hanya sebagai hiasan sudah dijadikan central pengaduan. Semua orang yang meminta bantuan bisa mengadukan keluhannya di berugak (gerdu cerdas) tersebut.

Persoalan mendasar di Desa Kekeri biasanya sangat kesulitan mengumpulkan ibu-ibu saat ini sudah dirasa tidak lagi. Digerdu itulah lahir hasrat dan keinginan yang coba disalurkan dan dicari jalan keluarnya. Saat ini pun telah ada proses kaderisasi yang melahirkan generasi penerus, para remaja yang terlihat sangat bersemangat dan kompak.

Kegiatan gotong royong yang sempat terpendam kembali bisa dihidupkan. Untuk mendukung kegiatan, jelas ada dukungan penganggaran. Pemerintah sendiri saat ini dirasa tidak kesulitan dengan kesadaran yang telah terbangun dari masyarakat.

Selanjutnya, Sekretaris Jendral (Sekjen) Jaringan Masyarakat Sipil (JMS), Tommy, menyampaikan keberadaan berugak yang sudah mengakar dalam budaya Indonesia bisa dijadikan ruang pembangunan. Tidak sebatas dijadikan pos jaga.

Coba diredefinisikan Tommy, bahwa keberadaan berugak selama ini tidak tidak saja berfungsi sebagai central militer seperti masa lalu. Namun lebih dari itu, ada fungsi sosial yang terkandung. Kepemilikan berugak, siapapun yang membangunnya tidak secara ekslusif murni milik orang yang membangun. Namun milik semua pihak.

Peralihan dari fungsi militer ke fungsi sosial ini dirasa cukup menarik. Peran itulah yang dirasa cukup bagus dan diambil ACCES untuk dimanfaatkan sebagai media pembangunan. Ajak masyarakat untuk turut berpartisipasi membangun pendidikan, menata kekurangan dalam setiak kegiatan pembangunan.

Selama ini dinilai Tommy, kegiatan membangun kurang melibatkan masyarakat. Dinilai ada perlawanan terhadap kebiasaan masyarakat ngerumpi tersebut. Dimana, kalau bicara pendidikan diarahkan cukup disekolah, bicara kesehatan cukup di dinas kesehatan dan sejenisnya. Sekjen JMS ini, kebiasaan masyarakat tersebut harus dimanfaatkan. Belajar diberugak sambil ngobrol santai.

Dikritik Tommy gerakan 3A (Akino-Absano-Adono) yang mengarahkan ke tempat-tempat lain. Tidak memanfaatkan berugak sebagai tempat yang biasa dikerumuni warga. “Kita punya tradisi untuk saling berbagi,” cakapnya. Bicara politik, bicara pendidikan, dan bicara hal-hal lainnya sangat pantas dan cukup mengena bicarakan juga di berugak. Hilangkan pikiran, kalau bicara politik, adalah obrolan berat. Manfaatkan budaya dan tradisi ngerumpi di berugak sebagai media untuk membicarakan, merencanakan kegiatan pembangunan menuju masyarakat yang lebih maju.

Friday, July 23, 2010

100 products processed from raw coconut

PROF. Ir. H. Sunarpi, PhD., Mentioning one of the forgotten great potential is the coconut. A professor from the University of Gajah Mada (UGM), Prof. Dr. Bambang S., he has created 100 products processed from raw coconut. Among others, Virgin Coconut Oil (VCO) or virgin oil, nata decoco, liquid smoke. Special liquid smoke, he added is one of its product can be used as food preservatives. Instead of using preservatives that are harmful to the food, Sunarpi would recommend using a natural food preservative that. In addition, many coconuts that have the potential high economic value. Previously, assessed Sunarpi, there are less fit than the efforts of certain parties who have disparaged the preparations of coconut products. Though not the case. "We've been fed by the poor image of the palm, such as cholesterol and other hazards. As a result of our society so afraid, "he said. Though not so, the potential for a lot of oil on earth thrives gora processed products can be developed in various forms.

Keep in mind, advanced replacement Prof. Ir. H. Mansur Ma'shum, PhD Unram Rector of this, not only human resource that should be improved. Niaganya governance system must be prepared. And do not forget, the capital for entrepreneurs. "Is where the need for a touch of the bureaucracy," according Sunarpi. In general, recognized Sunarpi savior when the food crisis is even a financial crisis which had hit. But so far, prospective students alumni perceived less interested in his own farm agriculture business that. Although recognized as a savior, but felt less so loved by the graduates who already have academic provision. "Resistance during the crisis, it's saved by agriculture. But do not realize that agriculture is a savior, "said the rector of this. It is unfortunate, for these alumni to pursue opportunities so impressed only Civil Servants (PNS). In fact, if you already have the academic capital, believed to be able to explore the potential of Natural Resources (SDA) which is believed to be able to give great added value.

Admittedly, so far not seen many entrepreneurs who are developing crops that. This was seen when only the traditional businessman who has not seen development. In fact, if cultivated, especially talk of refined food has a huge potential to bring added value. Sunarpi know, the provincial government (provincial) menggaungkan NTB is one of the strategic programs of agribusiness. Rector Unram strongly supported this because considering the enormous potential to improve the economic level of society. Except for local food in agricultural products is hampered product durability.'s Products and hortikukltura food for small entrepreneurs who have no capital will certainly survive. "If you score less wilted," he said. Necessary capital assistance for small entrepreneurs. The industries that developed recommended prefer the commodity itself. Rather than import the commodity.

“Warige" Climate Prediction with Sasak Community

PARTIAL Sasak people turned out to have a separate system in predicting things. Including predictions of climate. Local wisdom is named, warige. Climate forecasting system that is evolving for a long time among the Sasak Lombok community. In view of the Sasak people, the majority Muslims, this warige reference in any calendar month Qomariyah use. Explained researcher at the Center for Water Resources and Agro-climate Research (PUSLISDA) University of Mataram (UNRAM), Ir. Ismail Yasin, MSc. using Warige system can be known when the rain come down heavy, normal and a little rain.

Determination Warige assessed by Sasak and grow in the community after the study has a high degree of accuracy. "Accuracy reaches 70 percent," he said. The way to know it by looking at the rain intensity at the date when tumbuk (over-head sun). The date on which the sun as a source of heat in the earth just above the head. When checked scientifically, it turns out in months of ad on the island of Lombok, especially mashed occurred on October 15. Where, Lombok is located in south latitude 8035I each year was always going mashed dated October 15.

Counting warige torrential monsoon intensity, moderate and normal visits to date on the moon qamariyah mashed. Known, between AD and Qamariyah month is different, if it was mashed Qamariyah 6 months, the rainfall is quite high. Furthermore, if there are mashed Qamariyah 16th month, the normal rainfall, about 1500 mm3 per year. Finally, if mashed occurred on 26 then low rainfall. This is evident, as noted in the year 2009 and then, there has been mashed so it looks relatively low rainfall. With this warige, the nature of the rain. Are known, the party or do not smell much nyale obtained.

"Our parents actually have very ideology these climatic conditions," said Ismail. To forecast with warige, continued during the last two years are always right. Meanwhile, if the climate anomalies associated with Ismail denied if current climate conditions look bad and distorted. Changes that occur when this is only the form of climate variations that occurred in recent years. Indeed, is not free from the influence of global warming. There was el nino (dry season) and la nina (wet season).

Where, if anomalies occur in decades, while this only happens when the time change on rainfall. Within warige, the rain continued to fall until next November. "2010 is quite normal rainfall," he added. Agustus-September to October is usually dry, but for year 2010 is still found in the rain. Dry season, predicted to occur next year 2011.

Prof. Ir. H. Mansur Ma'shum PhD., Adding local wisdom (local wisdom) that existed at the Sasak people mostly taken from old books. There is book 12 stars, tajul grandiose and several other reference books. Delivered, the determination of this season in every area there. In Java, known as Maco mongso. Only the former rector Unram recognized this, local wisdom began to be forgotten.

For his part, tried to lift the local wisdom into scientific studies. Results of scientific studies with the local wisdom that can be collaborated and there is no disagreement. No conflict was recognized analyst of Meteorology, Climatology and Geophysics (BMKG), Aldi Rifaldy. Lack of local wisdom that only the data. Differences with BMKG for the support of data and technology.

“Warige” Ramalan Iklim ala Orang Sasak

SEBAGIAN orang Sasak ternyata memiliki sistem tersendiri dalam meramalkan sesuatu. Termasuk ramalan terhadap iklim. Kearifan lokal itu dinamai, warige. Yakni sistem peramalan iklim yang berkembang sejak lama dikalangan masyarkat Sasak Lombok. Mengingat masyarakat sasak ini mayoritas muslim, acuan penanggalan dalam warige ini pun menggunakan bulan Qomariyah.

Dijelaskan peneliti di Pusat Penelitian Sumberdaya Air dan Agroklimat (PUSLISDA) Universitas Mataram (Unram), Ir. Ismail Yasin, MSc. dengan menggunakan sistem Warige dapat diketahui kapan hujan turun lebat, normal dan sedikit hujan.

Penentuan dengan cara Warige dinilai berkembang di masyarakat Sasak dan setelah diteliti memiliki tingkat keakuratan tinggi. “Akurasinya mencapai 70 persen,” ucapnya. Adapun cara mengetahui intensitas hujan itu dengan melihat tanggal terjadinya tumbuk (over head sun). yakni, tanggal dimana sang Surya sebagai sumber panas di bumi persis berada diatas kepala.

Ketika dicek secara ilmiah, ternyata dalam bulan Masehi tumbuk di pulau Lombok khususnya terjadi pada tanggal 15 Oktober. Dimana, Lombok yang berada di 8035I Lintang Selatan (LS) setiap tahunnya selalu terjadi tumbuk tanggal 15 Oktober.

Menghitung warige musim hujan intensitasnya lebat, sedang dan normal dilihat pada tanggal tumbuk di bulan qamariyah. Diketahui, antara bulan Masehi dan Qamariyah ini berbeda, jika tumbuk itu terjaditanggal 6 bulan Qamariyah, maka curah hujan cukup tinggi. Selanjutnya, jika terjadi tumbuk tanggal 16 dibulan Qamariyah, maka hujan normal, yakni sekitar 1.500 mm3 pertahun.

Terakhir, jika tumbuk terjadi pada tanggal 26 maka curah hujan rendah. Hal ini terbukti, saat diperhatikan di tahun 2009 lalu, terjadi tumbuk sehingga terlihat curah hujan relatif rendah. Dengan warige ini, sifat hujan. Dapat diketahui, pesta bau nyale banyak atau tidak nyale yang diperoleh.

“Orang tua kita sebenarnya sudah sangat faham kondisi iklim ini,” ucap Ismail. Terhadap ramalan dengan warige, lanjutnya selama dua tahun terakhir selalu tepat.

Sementara, jika dikaitkan dengan anomali iklim dibantah Ismail kalau kondisi iklim saat ini terlihat parah dan menyimpang. Perubahan yang terjadi saat ini hanyalah bentuk dari variasi iklim yang terjadi beberapa tahun terakhir. Memang, tidak lepas dari adanya pengaruh global warming.

Terjadi el nino (musim kering) dan la nina (musim basah). Dimana, kalau anomali terjadi dalam puluhan tahun, sementara yang terjadi saat ini hanya perubahan waktu turunnya hujan. Dalam hitungan warige, hujan terus akan turun hingga Nopember mendatang. “2010 ini hujan cukup normal,” imbuhnya. Agustus-September-Oktober memang biasanya kering, namun untuh tahun 2010 ini masih ditemukan hujan. Musim kemarau, diprediksi akan terjadi tahun 2011 mendatang.

Prof. Ir. H. Mansur Ma’shum PhD., menambahkan local wisdom (kearifan lokal) yang ada pada masyarakat sasak sebagian besar diambil dari kitab-kitab dulu. Ada disebut kitab bintang 12, tajul muluk dan beberapa kitab rujukan lainnya.

Disampaikan, penentuan musim ini disetiap daerah itu ada. Di Jawa dikenal dengan sebutan pranoto mongso. Hanya saja diakui mantan rektor Unram ini, kearifan lokal itu mulai terlupakan. Pihaknya, coba mengangkat kearifan lokal itu ke dalam kajian ilmiah. Hasil kajian ilmiah dengan kearifan lokal itu bisa dikolaborasikan dan tidak terjadi pertentangan.

Tidak adanya pertentangan itu diakui analis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Aldi Rifaldy. Kekurangan local wisdom itu hanya pada data. Beda dengan BMKG dengan dukungan data dan teknologi. (rus)