Sebelum krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 silam, kawasan pertanian Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terkenal dengan komoditi bawang putih. Sebuah komoditi andalan yang selama satu dekade ini telah lenyap. Tahun 2011 ini, bawang putih dengan varietas unggulan Sangga Sembalun yang mulai langka ini coba untuk diselamatkan.
Dituturkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lotim, Ir. H. L. Khalid Tarmizi bersama salah seorang Penggerak Membangun Desa (PMD) Sembalun, Ruspaeni, SP menyatakan pada masa jayanya bawang putih Sembalun, masyarakat petani terbilang cukup sejahtera. “Gara-gara bawang putih, satu desa bisa naik haji di Sembalun,” papar Khalid.
Varietas Sangga Sembalun telah menjadi varietas langka. Menyadari hal itu, pemerintah pusat telah mencoba memberikan bantuan benih langsung kepada petani agar melakukan penangkaran terhadap benih ini. Penanaman bawang putih ini juga bagian dari upaya menghalau laju impor bawang putih yang cukup besar dewasa ini.
Sekitar 2 hektar (ha) diminta pusat untuk dikembangkan. Oleh para petani Sembalun kemudian mengembangkannya menjadi 3,25 hektar. “Total bibit yang telah disiapkan sekitar 3 ton,” timpal Ruspaeni.
Upaya penyelamatan bibit langka ini sudah mulai dilakukan dan hasilnya cukup bagus. Hasil panen diniatkan Ruspaeni tidak untuk dijual. Namun untuk dikembangkan dulu sampai benar-benar cukup banyak dan tidak menjadi langka. Diupayakan juga, ke depan ada sertifikasi benih Sangga Sembalun ini. Karena satu-satunya hanya ada di Sembalun.
Di sejumlah daerah lain, ada varietas Limbu Hijau milik daerah Karang Anyar Jawa Tengah. Varietas ini sudah disertifikasi. Ada juga jenis varietas lain, yang disebut limbu kuning. Varietas Sangga Sembalun dipandang memiliki keunggulan jauh dibandingkan limbu kuning maupun limbu hijau. Baik dari segi produktivitas maupun dari segi rasa termasuk nilai jual.
Sangga Sembalun mampu produksi rata-rata 35 ton perhektar, sedangkan limbu kuning dan limbu hijau hanya mampu maksimal sampai 10-20 ton perhektar. Menghasilkan bawang putih yang bagus, dibutuhkan waktu hanya 120 hari.
Mengenai nilai jual, Sangga Sembalun terbilang cukup mahal. Harga yang baru panen, masih dalam kondisi basah bias mencapai Rp 950-1 juta per kwintal. Kondisi kering bisa dijual seharga Rp 2,5 juta per kwintal. Paling mahal harga benihnya yang bisa tembus Rp 4 juta perkwintal. Mengingat harga benih yang cukup mahal itulah, pada proses awal penanaman ini petani sepakat untuk tidak menjadikan benih terlebih dahulu.
Soal rasa, kandungan astiri bawang putih varietas Sangga Sembalun ini cukup tinggi. Siung bawang ini juga cukup besar. Tidak kalah saing dengan bawang-bawang hasil impor
Friday, June 24, 2011
MTQ XXIV Lotim, Upaya Nyata Membumikan Al-Quran
Kamis (23/6) lalu, jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur (Lotim) mulai menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke XXIV. Upaya nyata membumikan al-Quran menuju Lotim yang adil dalam kesejahteraan dan sejahtera dalam keadilan dalam lindungan Allah SWT itu akan dipusatkan di Wisma Haji Selong.
Ketua Umum Panitia MTQ, Dra. Hj. Sri Utami Afianti, M.AP mengatakan pelaksanaan MTQ kali ini bisa disaksikan secara terbuka oleh semua lapisan elemen masyarakat. Dimana, MTQ ini juga dirangkaikan dengan kegiatan pameran buku-buku bernuansa islami.
Pelaksanaan MTQ kali ini dihajatkan bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. MTQ bisa mencetak para qori’-qoriah (Pembaca) Quran terbaik Lotim, Hafidz-hafidzah (Penghafal) Quran terbaik Mufassir dan Mufassirah (Penerjemah) Quran terbaik. Nantinya, saat berlaga di tingkat provinsi bisa mengharumkan nama baik Lotim, serta bisa menjadi juara berlaga ditingkat nasional bahkan internasional.
Digelarnya MTQ ini tidak sekadar rutinitas tahunan birokrasi. Namun ingin dicapai tujuan dan tema besarnya. Antara lain menjadi ajang pembinaan dan kaderisasi bagi qori’qor’iah, hafidz hafidzah,mufassir mufassirah dan meningkatnya minat baca terhadap kitab Suci al-Quran. Terpenting tidak saja mampu menghafal, menulis dan memahami isi al-Quran, namun bisa menjalankan dan menyampaikan apa yang menjadi tuntunan Quran.
Asisten III Setda Loti mini menambahkan, MTQ sebagai ajang ukhuwah islamiyah, diharapkan pelaksanaannya bisa berjalan baik dan lancar. Para peserta cukup banyak. Dimana, masing-masing kecamatan akan mengutus 50 peserta dengan dua orang official dan satu orang pelatih.
Cabang-cabang yang dilombakan, antara lain Cabang Tilawah tiga golongan, dewasa, remaja dan anak-anak. Cabang tilawah golongan cacat netra, tartil, tahfidz, qiroatussab’ah, fahmil Quran, Syahril Quran dan Khottil Quran.
Pasca MTQ, pemkab Lotim tidak melepas begitu saja. Telah dijadwalkan ada pemusatan latihan lagi, Training Centre (TC) bagi para juara. Yakni mereka yang dipastikan ikut dalam ajang MTQ tingkat provinsi yang diketahui rencananya akan digelar di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) September 2011 mendatang.
Ketua Umum Panitia MTQ, Dra. Hj. Sri Utami Afianti, M.AP mengatakan pelaksanaan MTQ kali ini bisa disaksikan secara terbuka oleh semua lapisan elemen masyarakat. Dimana, MTQ ini juga dirangkaikan dengan kegiatan pameran buku-buku bernuansa islami.
Pelaksanaan MTQ kali ini dihajatkan bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. MTQ bisa mencetak para qori’-qoriah (Pembaca) Quran terbaik Lotim, Hafidz-hafidzah (Penghafal) Quran terbaik Mufassir dan Mufassirah (Penerjemah) Quran terbaik. Nantinya, saat berlaga di tingkat provinsi bisa mengharumkan nama baik Lotim, serta bisa menjadi juara berlaga ditingkat nasional bahkan internasional.
Digelarnya MTQ ini tidak sekadar rutinitas tahunan birokrasi. Namun ingin dicapai tujuan dan tema besarnya. Antara lain menjadi ajang pembinaan dan kaderisasi bagi qori’qor’iah, hafidz hafidzah,mufassir mufassirah dan meningkatnya minat baca terhadap kitab Suci al-Quran. Terpenting tidak saja mampu menghafal, menulis dan memahami isi al-Quran, namun bisa menjalankan dan menyampaikan apa yang menjadi tuntunan Quran.
Asisten III Setda Loti mini menambahkan, MTQ sebagai ajang ukhuwah islamiyah, diharapkan pelaksanaannya bisa berjalan baik dan lancar. Para peserta cukup banyak. Dimana, masing-masing kecamatan akan mengutus 50 peserta dengan dua orang official dan satu orang pelatih.
Cabang-cabang yang dilombakan, antara lain Cabang Tilawah tiga golongan, dewasa, remaja dan anak-anak. Cabang tilawah golongan cacat netra, tartil, tahfidz, qiroatussab’ah, fahmil Quran, Syahril Quran dan Khottil Quran.
Pasca MTQ, pemkab Lotim tidak melepas begitu saja. Telah dijadwalkan ada pemusatan latihan lagi, Training Centre (TC) bagi para juara. Yakni mereka yang dipastikan ikut dalam ajang MTQ tingkat provinsi yang diketahui rencananya akan digelar di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) September 2011 mendatang.
Penas XIII, Bisakah Hadirkan Nilai Tambah Nyata Bagi Petani?
Terhitung sejak Sabtu (18/6) hingga Kamis (23/6) lalu, bertempat di Stadion Aji Imbut Desa Perjiwa Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) digelar pertemuan para petani se Nusantara. Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ke XIII. Sebanyak 30 ribu orang lebih memadati gelanggang olah raga di Kabupaten terkaya di Indonesia itu.
PROVINSI NTB turut mengirimkan utusan mengikuti ajang pesta dan berbagi inovasi para petani yang digelar empat tahun sekali itu. “ ini ajang silaturrahmi dan berharap bermacam-macam temuan yang ada disini bisa ditindaklanjuti untuk mencapai kesejahteraan petani,” komentar Asisten I Sekretariat Daerah NTB, H.M. Nur Asikin Amin yang berada di lokasi pameran seusai pembukaan Penas oleh Wakil Presiden RI, H. Boediono Sabtu lalu.
Hasil Penas diharap bisa memberikan nilai tambah yang nyata bagi para petani. Dimana, ajang penas itu ada kesempatan saling berbagi. Melihat teknologi yang digunakan para petani daerah lain.
“Penas ini adalah ajang pertukaran informasi dan pengalaman,” timpal Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin yang juga berada di lokasi pameran. Bertukar pengalaman dinilai sebuah upaya yang paling penting. Tentunya, hasil yang dibawa pulang memang harus nyata.
Ajang Penas tentu tidak sekedar duduk manis di stand pameran atau hanya sekedar mengikuti serangkaian acara seremonial tanpa berbuat apa-apa. Pasalnya, tujuan yang ingin di capai cukup berat. Menuju petani yang sejahtera.
Tugas pemerintah dalam upaya mewujudkan petani yang sejahtera itu harus dilakukan secara fokus. Seperti Dompu dimisalkan mencoba fokus pada pengembangan jagung. Untuk itu, keberpihakan anggaran juga sangat menentukan.
Pantauan Suara NTB di Lokasi Penas XIII, memperlihatkan keikutsertaan sekitar 470 utusan NTB ini terkesan hanya pada seremonial saja. Dimana, momentum untuk bisa bertukar informasi dan upaya penemuan teknologi baru yang nantinya akan diterapkan tidak terlihat. Utamanya di stan pameran produk-produk pertanian NTB.
Paling banyak yang dipamerkan adalah mutiara. Terang saja, dominasi pengunjung terlihat hanya di stan yang ada mutiaranya. Stan Badan Ketahanan Pangan (BKP) yang hanya menampilkan buku dan sejumlah produk olahan, Dinas Perkebunan (Disbun) NTB yang hanya mempertontonkan daun tembakau yang dikeringkan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB yang hanya menampilkan gambar sapi seperti tidak ada yang melirik sama sekali.
Begitupun yang terlihat untuk Stan Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Lombok Tengah (Loteng), Lombok Barat (Lobar) dan kabupaten lainnya. Maraknya pengunjung terlihat hanya saat mencicipi makanan yang disajikan. Seperti stan Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang menyajikan ceretan berisi air narmada. Begitupun di stan BKP NTB yang menyajikan makanan-makanan olahan.
Parahnya lagi, sejumlah stan yang telah dengan susah payah dibuat itu kerap sepi. Bagaimana tidak, jangankan pengunjung para penjaga stan pun tidak terlihat. Kejadian ini terlihat di stan BKP NTB. Petugas yang bertugas tidak diketahui kemana perginya.
Di stan Kota Bima, terlihat yang banyak dipertontonkan adalah sarung tenun. Kata wakil Walikota yang menyempatkan hadir event tersebut, pihaknya fokus ingin mempromosikan hasil kreativitas penenun.
Semua sajian yang diperlihatkan para utusan kabupaten ini tampak belum sesuai dengan yang diharapkan. Tampak yang cukup kreatif mempromosikan pertanian sesuai dengan tujuan utama digelarnya Penas XIII hanya Kota Mataram. Dengan suguhan andalan Mangga Mentaram, sangat diminati para pengunjung.
Dituturkan Fahrurrazi, sebanyak 15 buah pohon yang rela ia bawa bersama timnya ke Kaltim ini habis terjual pada hari pertama Pameran dibuka. Bahkan, ada juga yang minta dikirimkan lewat paket. “Saya puas, teknologi yang kita unggulkan sangat diminati,” ucapnya.
Belajar ke Daerah Lain
Selanjutnya, salah satu tujuan lainnya yang ingin dicapai dalam momentum Penas XIII ini adalah mempelajari apa yang menjadi kelebihan daerah lain. Seperti diniatkan BKP NTB, disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan BKP NTB, Ir. L. Sukariadi.
Dikatakan, Provinsi NTB yang masuk kategori daerah tertinggal perlu banyak belajar kepada daerah yang sudah cukup maju pengembangan pertaniannya. Penas bisa dijadikan kesempatan untuk menggali tambahan pengetahuan dalam pengelolaan pertanian.
Dalam kegiatan Penas XIII tersebut BKP NTB ingin fokus mensosialisasikan ketahanan pangan, diversifikasi pangan. Karenanya ditampilkan BKP ini sejumlah produk olahan yang menggunakan pangan lokal yang beragam. Harapannya, dengan pertemuan ini para petani bisa saling menimba ilmu dengan petani daerah lain.
NTB dicita-citakan tahun 2011 ini bisa terus meningkatkan produksi pangannya. Utamanya beras yang ditargetkan bisa mencapai 2 juta ton. Bisa terus menjadi penyangga beras nasional. Untuk mencapai itu, diperlukan pengetahuan dan pembelajaran. Termasuk, pemanfaatan teknologi yang turut dipamerkan dalam ajang Penas XIII.
Melihat beberapa tujuan yang besar itu, Sukariadi membantah kalau diikutinya ajang itu terkesan hanya tidak ada manfaatnya. Bukan pula untuk buang-buang uang. Namun dipastikan akan benar-benar bermafaat untuk pengembangan dunia pertanian NTB ke depan.
Senada dengan Sukariadi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB, Ir. H. Abdul Maad, MM mengatakan, Penas XIII ini merupakan ajang saling tukar informasi. Tempat menukar teknologi dari petani-petani yang ada di seluruh Indonesia. Beberapa event akan dilakukan. Ada temu teknologi. Ada temuan teknologi tepat guna. Akan ada perlombaan juga, mengadu mana yang lebih kreatif dan inovatif petani kita.
“NTB akan mengikuti 14 mata event,” ucapnya. Antara lain, ikuti lomba teknologi. Ada juga temuan-temuan baru. Unggulan NTB teknologi adalah budidaya pertanian, pengendalian hama penyakit. Pengendalian hama Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara alamiah. Kita menggunakan bahan baku nabati yang tersedia di daerah yang bisa berfungsi sebagai festisida.
PROVINSI NTB turut mengirimkan utusan mengikuti ajang pesta dan berbagi inovasi para petani yang digelar empat tahun sekali itu. “ ini ajang silaturrahmi dan berharap bermacam-macam temuan yang ada disini bisa ditindaklanjuti untuk mencapai kesejahteraan petani,” komentar Asisten I Sekretariat Daerah NTB, H.M. Nur Asikin Amin yang berada di lokasi pameran seusai pembukaan Penas oleh Wakil Presiden RI, H. Boediono Sabtu lalu.
Hasil Penas diharap bisa memberikan nilai tambah yang nyata bagi para petani. Dimana, ajang penas itu ada kesempatan saling berbagi. Melihat teknologi yang digunakan para petani daerah lain.
“Penas ini adalah ajang pertukaran informasi dan pengalaman,” timpal Bupati Dompu, H. Bambang M. Yasin yang juga berada di lokasi pameran. Bertukar pengalaman dinilai sebuah upaya yang paling penting. Tentunya, hasil yang dibawa pulang memang harus nyata.
Ajang Penas tentu tidak sekedar duduk manis di stand pameran atau hanya sekedar mengikuti serangkaian acara seremonial tanpa berbuat apa-apa. Pasalnya, tujuan yang ingin di capai cukup berat. Menuju petani yang sejahtera.
Tugas pemerintah dalam upaya mewujudkan petani yang sejahtera itu harus dilakukan secara fokus. Seperti Dompu dimisalkan mencoba fokus pada pengembangan jagung. Untuk itu, keberpihakan anggaran juga sangat menentukan.
Pantauan Suara NTB di Lokasi Penas XIII, memperlihatkan keikutsertaan sekitar 470 utusan NTB ini terkesan hanya pada seremonial saja. Dimana, momentum untuk bisa bertukar informasi dan upaya penemuan teknologi baru yang nantinya akan diterapkan tidak terlihat. Utamanya di stan pameran produk-produk pertanian NTB.
Paling banyak yang dipamerkan adalah mutiara. Terang saja, dominasi pengunjung terlihat hanya di stan yang ada mutiaranya. Stan Badan Ketahanan Pangan (BKP) yang hanya menampilkan buku dan sejumlah produk olahan, Dinas Perkebunan (Disbun) NTB yang hanya mempertontonkan daun tembakau yang dikeringkan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB yang hanya menampilkan gambar sapi seperti tidak ada yang melirik sama sekali.
Begitupun yang terlihat untuk Stan Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Lombok Tengah (Loteng), Lombok Barat (Lobar) dan kabupaten lainnya. Maraknya pengunjung terlihat hanya saat mencicipi makanan yang disajikan. Seperti stan Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang menyajikan ceretan berisi air narmada. Begitupun di stan BKP NTB yang menyajikan makanan-makanan olahan.
Parahnya lagi, sejumlah stan yang telah dengan susah payah dibuat itu kerap sepi. Bagaimana tidak, jangankan pengunjung para penjaga stan pun tidak terlihat. Kejadian ini terlihat di stan BKP NTB. Petugas yang bertugas tidak diketahui kemana perginya.
Di stan Kota Bima, terlihat yang banyak dipertontonkan adalah sarung tenun. Kata wakil Walikota yang menyempatkan hadir event tersebut, pihaknya fokus ingin mempromosikan hasil kreativitas penenun.
Semua sajian yang diperlihatkan para utusan kabupaten ini tampak belum sesuai dengan yang diharapkan. Tampak yang cukup kreatif mempromosikan pertanian sesuai dengan tujuan utama digelarnya Penas XIII hanya Kota Mataram. Dengan suguhan andalan Mangga Mentaram, sangat diminati para pengunjung.
Dituturkan Fahrurrazi, sebanyak 15 buah pohon yang rela ia bawa bersama timnya ke Kaltim ini habis terjual pada hari pertama Pameran dibuka. Bahkan, ada juga yang minta dikirimkan lewat paket. “Saya puas, teknologi yang kita unggulkan sangat diminati,” ucapnya.
Belajar ke Daerah Lain
Selanjutnya, salah satu tujuan lainnya yang ingin dicapai dalam momentum Penas XIII ini adalah mempelajari apa yang menjadi kelebihan daerah lain. Seperti diniatkan BKP NTB, disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan BKP NTB, Ir. L. Sukariadi.
Dikatakan, Provinsi NTB yang masuk kategori daerah tertinggal perlu banyak belajar kepada daerah yang sudah cukup maju pengembangan pertaniannya. Penas bisa dijadikan kesempatan untuk menggali tambahan pengetahuan dalam pengelolaan pertanian.
Dalam kegiatan Penas XIII tersebut BKP NTB ingin fokus mensosialisasikan ketahanan pangan, diversifikasi pangan. Karenanya ditampilkan BKP ini sejumlah produk olahan yang menggunakan pangan lokal yang beragam. Harapannya, dengan pertemuan ini para petani bisa saling menimba ilmu dengan petani daerah lain.
NTB dicita-citakan tahun 2011 ini bisa terus meningkatkan produksi pangannya. Utamanya beras yang ditargetkan bisa mencapai 2 juta ton. Bisa terus menjadi penyangga beras nasional. Untuk mencapai itu, diperlukan pengetahuan dan pembelajaran. Termasuk, pemanfaatan teknologi yang turut dipamerkan dalam ajang Penas XIII.
Melihat beberapa tujuan yang besar itu, Sukariadi membantah kalau diikutinya ajang itu terkesan hanya tidak ada manfaatnya. Bukan pula untuk buang-buang uang. Namun dipastikan akan benar-benar bermafaat untuk pengembangan dunia pertanian NTB ke depan.
Senada dengan Sukariadi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB, Ir. H. Abdul Maad, MM mengatakan, Penas XIII ini merupakan ajang saling tukar informasi. Tempat menukar teknologi dari petani-petani yang ada di seluruh Indonesia. Beberapa event akan dilakukan. Ada temu teknologi. Ada temuan teknologi tepat guna. Akan ada perlombaan juga, mengadu mana yang lebih kreatif dan inovatif petani kita.
“NTB akan mengikuti 14 mata event,” ucapnya. Antara lain, ikuti lomba teknologi. Ada juga temuan-temuan baru. Unggulan NTB teknologi adalah budidaya pertanian, pengendalian hama penyakit. Pengendalian hama Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara alamiah. Kita menggunakan bahan baku nabati yang tersedia di daerah yang bisa berfungsi sebagai festisida.
Wednesday, June 15, 2011
Pengusaha Jagung di Lotim Belum Tertarik iPasar
HARGA jagung di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini rata-rata Rp 275-280 ribu/kwintal atau setara Rp 2800/kilogram (kg). Angka tersebut terbilang cukup mahal dan cukup menguntungkan bagi para pengumpul. Termasuk bagi para petani.
Hal itu diutarakan seorang pengumpul jagung asal Desa Mamben Daya Kecamatan Wanasaba, Ihsan. Ditemui Suara NTB di gudang penyimpanan jagungnya Senin (13/6), Ihsan yang akrab dipanggil Ican ini menuturkan jagung-jagung yang dikumpulkannya itu sebagian besar dijual ke luar daerah. Ke Probolinggo Jawa Timur (Jatim) dan ke Denpasar Bali.
Harga jagung saat ini, lanjutnya sudah bertahan selama dua minggu terakhir. Harga itu pun dianggap cukup stabil. Dibandingkan beberapa saat yang lalu. “Pernah juga tembus sampai Rp 300 ribu/kwintal,” tuturnya. Cukup menjanjikannya harga jagung itu membuat margin keuntungan yang diperoleh cukup besar juga.
Hanya saja, untuk saat ini ia mengaku kesulitan mendapatkan barang. Pasalnya, memasuki pertengahan tahun 2011 ini, sejumlah petani tampak masih memilih menanam padi dibandingkan palawija. Akibatnya, stok palawija, utamanya jagung beberapa bulan terakhir ini dianggap cukup sulit untuk diperoleh.
Ican menuturkan, biasanya ketika jagung lagi ramai, ia bisa mengirim ke luar daerah rata-rata 80 ton/minggu. Sementara saat ini, ia hanya bisa paling banyak 11 ton perminggu.
Sebagai pengumpul, Ican mengaku jagung-jagung yang didatangkan ke gudangnya ini berasal dari sejumlah daerah di NTB. Termasuk dari Pulau Sumbawa. Menggeluti usaha dibidang jual beli jagung ini dimulai sejak tahun 2005. Dengan jaringan yang telah dimiliki, membuat sistem beli jagung cukup menguntungkan.
Ditanya soal iPasar, Ican mengatakan tidak terlalu banyak taku dan tampak tidak terlalu ingin mengetahuinya. Mekanisme penjualan yang sekarang digelutinya dirasa sudah cukup menjanjikan. Sepenngetahuannya, Konsep iPasar dinilai sama saja dengan sitem pabrikan. Menuntut untuk pengadaan barang yang sesuai dengan standard. Seperti harus memenuhi kadar air dan semacamnya.
Mekanisme penjualan dengan memperhatikan standar itu dianggap menyulitkan petani. Pasalnya, ketika petani sudah selesai panen kadar air memang masih cukup tinggi. Pabrik kerap menawarkan kadar air rendah. Sementara, para pengumpul lebih berfikir cepat. Jika harus menunggu sampai kadar air sesuai permintaan, kerugian ditaksir jauh lebih besar.
Berdasarkan hal itu, maka para pengumpul ini lebih tertarik menjual ke luar daerah dibandingkan mengikuti tawaran iPasar dengan konsep lelang internetnya.
Letak kerugiannya, terang Ican tentunya pada transportasi dan juga pada harga pembelian. Dimana, sebelum kadar air memenuhi standar pabrik itu harga sudah jauh susutnya. Sementara itu, sistem penjualan ke luar daerah masih mempertimbangkan berat bersih. Uangnya pun langsung bisa diterima.
Menanam Padi Tanpa Penyemaian, Bisakah?
Sebagian besar petani mengenal cara menanam padi dengan cara disemaikan terlebih dulu. Dilakukannya persemaian ini guna mendapatkan bibit yang unggul. Orang Lombok Timur (Lotim) menyebutnya ngampar padi, yakni ditempat khusus. Setelah dirasa usianya cukup baru dipindahkan ke tempat yang telah disiapkan. Namun cara itu kemudian termentahkan dengan adanya teknologi baru, padi bisa ditanam langsung seperti menanam jagung. Bisakah?
TEKNOLOGI itu dibuktikan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rinjani Permai Desa Sukadana Kecamatan Terara Kabupaten Lotim. Alhasil, dengan mengikuti aturan yang diajarkan Petani Desa Sukadana ini berhasil menghasilkan bulir padi yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem penanaman cara lama.
Diungkapkan Ketua Gapoktan Rinjani Permai, Syahabudin saat acara panen perdana padi Tabela, di sawah Desa Sukadana Selasa (14/6) kemarin, sistem Tabela ini terbukti jauh lebih menguntungkan. Tentunya dilihat dari segi biaya. Tidak butuh terlalu banyak ongkos tanam, hemat air, hemat waktu dan ternyata jauh lebih kebal Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Bibit yang dibutuhkan jauh lebih hemat. Dimana, rata-rata dengan sistem Tabela ini hanya butuhkan bibit 20 kilogram (kg)/hektar (ha). Sedangkan untuk cara lama dibutuhkan sekitar 25-30 kg/ha.
Potensi hasil panen, ternyata jauh lebih banyak dengan sistem Tabela dibandingkan dengan cara lama. Yakni bisa memberikan hasil ubinan 13,4 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP). Sementara, cara lama hanya bisa tembus maksimal 9-10 ton/ha GKP.
Sebelum menanam padi, perhatian utamanya pada aspek persiapan lahan. Pada prinsipnya, pengelolaan lahan untuk persiapan lahan bertanam padi Tabela hampir sama dengan persiapan bertanam padi secara umum. Melakukan pembajagan sampai dua arah, galengan ditamping dan dipopok agar tidak keluar ke petak yang lain. Setelah dibajag, lahan diratakan agar distribusi dan penyebaran air bisa lebih merata.
Sistem Tabela ini juga butuh dibuatkan caren, yakni selokan kecil sedalam 10-20 centi meter (cm). Cara pembuatan caren ini cukup dengan menggunakan alat yang biasanya dipakai petani, seperti cangkul atau lebih cepat menggunakan alat yang sudah dimodifikasi.
Pembuatan caren ini dimaksudkan untuk memudahkan petani melakukan penyemprotan dan pemupukan. Serta memudahkan petani dari serangan hama, seperti keong. Caren ini juga bisa berfungsi untuk mengeluarkan genangan air saat atau setelah musim hujan.
Bertanam padi dengan sistem Tabela, disarankan pada usia padi baru 10 hari lahannya tetap dalam kondisi lembab. Hal ini sangat menghemat air. Baru setelah usia diatas itu, diairi dengan cukup 2-3 kali dalam sehari. Padi tabela, tidak butuh digenani air terus menerus. Pasalnya, akarnya sudah cukup banyak.
Adapun cara menanam cukup sederhana, hanya menggunakan alat yang sudah dimodifikasi. Dengan menggunakan alat ini, sangat menghemat tenaga. Perorang bisa menanam dalam waktu cepat dan cukup luas. Tidak seperti sistem lama, yang membutuhkan banyak orang untuk menanam padi yang telah selesai disemaikan itu.
Alat dimaksudkan adalah, baytani. Sebuah alat yang terbuat dari pipa paralon yang dilubangi. Dimodifikasi dengan kayu dan dibuat tempat penarikan. Benih yang akan ditanam, dimasukkan dalam baytani setelah itu tinggal ditarik saja. Secara otomatis, sejengkal demi sejengkal padi keluar dari lubang pipa paralon ke tanah yang telah dibentuk oleh alat baytani itu sendiri. Karenanya, waktu menanam pun cukup singkat. Tinggal melakukan pemeliharaan dengan obat-obatan.
Temuan PT. Bayer Indonesia itu disambut baik Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lotim, H.L. Khalid Tarmizi. Ia pun menyarankan petani bisa mengembangkan teknologi terbaru itu. Dengan melihat hasil yang dipanen, Selasa kemarin.
Dikatakan Khalid, sentuhan teknologi Tabela ini merupakan salah satu langkah revitalisasi pertanian. Revitalisasi teknologi. Diyakini, setelah nanti banyak petani Lotim yang melihat hasilnya akan banyak yang akan mengikuti pemanfaatan teknologi tersebut.
Pemanfaatan teknologi ini juga bisa mendukung percepatan pencapaian produksi padi yang lebih banyak. Dituturkan Kadis tahun 2011 ini, cukup banyak bantuan pemerintah yang digelontorkan ke petani.
Disbeutkan, bantuan langsung benih unggul (BLBU) padi hibrida sebanyak 178.125 kg. Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk padi gogo sebanyak 25 ton, Sekolah Lapang Pengembangan Tanaman Terpadu (SLPTT) untuk padi non hibrida sebanyak 33 ton benih padi. Lain lagi, bantuan untuk benih jagung dan kedelai.
TEKNOLOGI itu dibuktikan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rinjani Permai Desa Sukadana Kecamatan Terara Kabupaten Lotim. Alhasil, dengan mengikuti aturan yang diajarkan Petani Desa Sukadana ini berhasil menghasilkan bulir padi yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan sistem penanaman cara lama.
Diungkapkan Ketua Gapoktan Rinjani Permai, Syahabudin saat acara panen perdana padi Tabela, di sawah Desa Sukadana Selasa (14/6) kemarin, sistem Tabela ini terbukti jauh lebih menguntungkan. Tentunya dilihat dari segi biaya. Tidak butuh terlalu banyak ongkos tanam, hemat air, hemat waktu dan ternyata jauh lebih kebal Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Bibit yang dibutuhkan jauh lebih hemat. Dimana, rata-rata dengan sistem Tabela ini hanya butuhkan bibit 20 kilogram (kg)/hektar (ha). Sedangkan untuk cara lama dibutuhkan sekitar 25-30 kg/ha.
Potensi hasil panen, ternyata jauh lebih banyak dengan sistem Tabela dibandingkan dengan cara lama. Yakni bisa memberikan hasil ubinan 13,4 ton/ha Gabah Kering Panen (GKP). Sementara, cara lama hanya bisa tembus maksimal 9-10 ton/ha GKP.
Sebelum menanam padi, perhatian utamanya pada aspek persiapan lahan. Pada prinsipnya, pengelolaan lahan untuk persiapan lahan bertanam padi Tabela hampir sama dengan persiapan bertanam padi secara umum. Melakukan pembajagan sampai dua arah, galengan ditamping dan dipopok agar tidak keluar ke petak yang lain. Setelah dibajag, lahan diratakan agar distribusi dan penyebaran air bisa lebih merata.
Sistem Tabela ini juga butuh dibuatkan caren, yakni selokan kecil sedalam 10-20 centi meter (cm). Cara pembuatan caren ini cukup dengan menggunakan alat yang biasanya dipakai petani, seperti cangkul atau lebih cepat menggunakan alat yang sudah dimodifikasi.
Pembuatan caren ini dimaksudkan untuk memudahkan petani melakukan penyemprotan dan pemupukan. Serta memudahkan petani dari serangan hama, seperti keong. Caren ini juga bisa berfungsi untuk mengeluarkan genangan air saat atau setelah musim hujan.
Bertanam padi dengan sistem Tabela, disarankan pada usia padi baru 10 hari lahannya tetap dalam kondisi lembab. Hal ini sangat menghemat air. Baru setelah usia diatas itu, diairi dengan cukup 2-3 kali dalam sehari. Padi tabela, tidak butuh digenani air terus menerus. Pasalnya, akarnya sudah cukup banyak.
Adapun cara menanam cukup sederhana, hanya menggunakan alat yang sudah dimodifikasi. Dengan menggunakan alat ini, sangat menghemat tenaga. Perorang bisa menanam dalam waktu cepat dan cukup luas. Tidak seperti sistem lama, yang membutuhkan banyak orang untuk menanam padi yang telah selesai disemaikan itu.
Alat dimaksudkan adalah, baytani. Sebuah alat yang terbuat dari pipa paralon yang dilubangi. Dimodifikasi dengan kayu dan dibuat tempat penarikan. Benih yang akan ditanam, dimasukkan dalam baytani setelah itu tinggal ditarik saja. Secara otomatis, sejengkal demi sejengkal padi keluar dari lubang pipa paralon ke tanah yang telah dibentuk oleh alat baytani itu sendiri. Karenanya, waktu menanam pun cukup singkat. Tinggal melakukan pemeliharaan dengan obat-obatan.
Temuan PT. Bayer Indonesia itu disambut baik Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lotim, H.L. Khalid Tarmizi. Ia pun menyarankan petani bisa mengembangkan teknologi terbaru itu. Dengan melihat hasil yang dipanen, Selasa kemarin.
Dikatakan Khalid, sentuhan teknologi Tabela ini merupakan salah satu langkah revitalisasi pertanian. Revitalisasi teknologi. Diyakini, setelah nanti banyak petani Lotim yang melihat hasilnya akan banyak yang akan mengikuti pemanfaatan teknologi tersebut.
Pemanfaatan teknologi ini juga bisa mendukung percepatan pencapaian produksi padi yang lebih banyak. Dituturkan Kadis tahun 2011 ini, cukup banyak bantuan pemerintah yang digelontorkan ke petani.
Disbeutkan, bantuan langsung benih unggul (BLBU) padi hibrida sebanyak 178.125 kg. Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk padi gogo sebanyak 25 ton, Sekolah Lapang Pengembangan Tanaman Terpadu (SLPTT) untuk padi non hibrida sebanyak 33 ton benih padi. Lain lagi, bantuan untuk benih jagung dan kedelai.
Kredit Mengendap Petani Tembakau Capai Rp 1,6 Triliun
Sejumlah petani tembakau di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mengalami sindrom ketakutan. Musim tanam tembakau selama dua tahun terakhir, 2009-2010 benar-benar memukul para petani tersebut. Karenanya, pada musim tanam 2011 disinyalir banyak petani tembakau yang memilih tidak menanam tembakau. Pasalnya, kredit diperbankan masih menumpuk. Terhitung dari semua jumlah petani di Lotim, total kredit yang masih mengendap mencapai Rp 1,6 triliun.
Demikian perhitungan salah seorang petani tembakau asal desa Kota Raja Kecamatan Sikur Lotim, Lalu Arwan, SH. Petani yang juga mantan anggota DPRD Lotim politisi Partai Demokrasi Indonesia Pembangunan (PDIP) menyebut, jumlah petani di Lotim sebanyak 16.000 lebih. Tingkat kerugian yang dialami petani mencapai Rp 100-500 juta. “Jadi akumulasi kerugian petani ini mencapai Rp 1,6 triliun,” tegasnya.
Kredit macet karena petani sebagian besar tidak bisa membayar. Kerugian yang dialami petani membuat petani tidak bisa membayar hutang-hutang di perbankan. “terjadi kemacetan pembayaran kredit, silahkan bisa di cek di perbankan-perbankan,” unggahnya.
Pemerintah harapannya bisa memperhatikan nasib para petani ini. Dimana aspek permodalan menjadi kendala terbesar petani. Dana Bagi Hasil Cuhai Hasil Tembakau (DBH CHT) diharap bisa menjadi solusi terhadap persoalan petani itu. Namun sejauh ini belum ada yang turun dana tersebut.
Diketahui, pemerintah menjanjikan akan memberikan kredit lunak DBH CHT. Untuk Kabupaten Lotim diketahui nilainya mencapai Rp 32 miliar dari Rp 130 miliar yang diperoleh Provinsi NTB tahun 2011 ini meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 109 miliar lebih.
Pola pemberian bantuan ke petani dengan memberikan kompor tembakau batu bara (Tembara) dipandang kurang tepat. Terlihat dengan banyaknya kompor tembara yang terpaksa dijual oleh petani ke tukang besi Rp 150 ribu.
Hal senada diutarakan H. Nurman Hamsyu, petani yang juga Kepala Desa Kota Raja ini mengaku selama dua tahun terakhir menanam tembakau selalu mengalami kerugian cukup besar. Terakhir tahun 2010 lalu, ia menanam di atas lahan seluas 4 hektar (ha).
Modalnya mencapai ratusan juta rupiah. Akibat merugi Rp 120 juta, ia pun terpaksa belum bisa membayar kredit di Bank Narapada Nusa Labu Api Lombok Barat (Lobar). Mengambil kredit diperbankan yang jauh dari rumahnya karena dipandang hanya perbankan itu yang memberikan kredit.
Soal jumlah petani yang minim menanam tembakau dibenarkannya. Disebukan di Desa Kota Raja diketahui sebanyak 70 orang petani tembakau. Pada musim tahun ini yang menanam hanya 3-5 orang saja. Hal itu, kembali disebabkan karena para petani yang terjebak kredit yang macet. “Jadi kita semua (petani tembakau-red) ini terkendala modal,” demikian ucapnya.
Sunday, April 24, 2011
Harga Cabe di Lotim Bertahan Rp 40 Ribu Per Kg
Harga cabe rawit di Lombok Timur (Lotim) sampai saat ini masih bisa membuat petani tersenyum. Setelah beberapa bulan lalu tembus dengan harga Rp 125-150 ribu per kilogram (kg). Saat ini harga si kecil yang pedas itu masih bertahan Rp 40 ribu per kg. Ditingkat petani, dibeli Rp 35 ribu per kg.
Demikian dituturkan Hajjah Zulrahmiainy, petani Subak Lendang Mudung Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lotim. Ia menuturkan para petani saat ini sudah mulai berbondong-bondong menanam cabe rawit. Di kawasan Subak Lendang Mudung ini, sudah puluhan petani mencoba beralih menanam cabe.
Beberapa waktu lalu, tanaman jenis cabe di kawasan pertanian subur ini jarang ditanam petani. Hal itu karena margin keuntungan yang diperoleh petani masih sangat kecil. Melonjaknya harga cabe rawit kali pertama sepanjang tahun beberapa waktu lalu sontak membuat para petani tergiur untuk menanam.
Dituturkan Zulrahmiainy, harga cabe ini sudah bertahan cukup lama. Terhitung sudah tujuh bulan lamanya, harga cabe rawit ini bertahan dengan harga yang dianggap cukup menguntungkan petani. Hanya saja, ketika terjadi banyak yang menanam berimbas pada penurunan harga.
Setelah tembus harga tertinggi melebihi Rp 100 ribu perkilogram dan sempat membuat orang nomor satu di Indonesia turut memusingkan hal itu, harga cabe rawit ini terus mengalami penurunan.
Dengan harga Rp 40 ribu saat ini sudah bertahan selama tiga bulan terakhir. Harapan petani, harga bisa lebih mahal lagi. Pasalnya, beberapa waktu lalu harga cabe tidak pernah tembus dengan harga yang menggiurkan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
Menanam cabe rawit, membutuhkan waktu yang cukup lama baru bisa memetik hasil. Setelah proses tanam, butuh waktu menunggu 3-4 bulan lamanya baru bisa panen. Mulai ada yang matang. Setelah itu, selang beberapa hari baru bisa metik lagi.
Usia cabe rawit, terbilang cukup lama dibandingkan jenis tanaman lainnya. Usianya bisa mencapai satu tahun baru ia dianggap tidak berbuah lagi. Artinya butuh waktu cukup lama untuk panen. Rata-rata panen seminggu dua kali. Dalam setahun panen bisa dilakukan berkali-kali.
Mahalnya, harga cabe rawit ini diketahui karena jarang sekali tanaman cabe petani yang bisa menghasilkan buah yang bagus. Iklim yang kurang bersahabat, hujan terus menerus sangat berpengaruh pada produktivitas cabe. Bagi petani Subak Lendang Mudung ini, perlindungan dengan menggunakan beragam jenis festisida wajib dilakukan. (rusliadi)
Subscribe to:
Posts (Atom)